Nisa, sekarang kamu sudah besar dan sudah saatnya kamu menikah, om dan
tante ingin melihat Nisa bersanding di pelaminan yang merupakan
keinginan dan cita-cita oom dan tante.". Ucap Oom Rasyid mengawali
pembicaraan
"Namun Nisa belum ada calon Oom dan Nisa masih ingin mangamalkan ilmu
Nisa dengan mengabdi di Madrasah Tsanawiyyah. Nisa masih ingin bekerja
Oom."
"Oom tahu itu, menikah bukan berarti Nisa tak bisa bekerja, Nisa masih
bisa bekerja setelah menikah. Dan Oom minta maaf sebelumnya. Sebetulnya
kami telah memilihkan calon pendamping hidup untuk Nisa dan kami yakin
dia adalah lelaki yang cocok untuk Nisa, dia pasti bisa memimpin Nisa
karena selain dia dokter dia adalah alumnus pondok pesantren yang kami
yakin dia seorang yang baik akhlak dan budi pekertinya."
Saat itu ingin rasanya aku memprotes dan menolak perjodohan itu namun
aku tak sanggup menyakit hati dan perasaan mereka aku tak akan sanggup
jika melihat mereka kecewa dan aku tidak punya alasan sama sekali untuk
menolaknya apalagi dari karakter yang disebutkan Oom dan tanteku
merupakan karakter yang aku terapkan dalam mencari pendamping
hidup.Namun bagaimana dengan Hafidz sosok yang aku cintai yang kini
bersemayam di dalam hatiku? Meskipun aku sadar dia bukan siapa-siapaku
namun aku tak yakin kalau aku bisa menggantikan namanya dengan nama
lelaki selainnya.
Tiga bulan lagi menurut kesepakatan yang telah di sepekati oleh kedua
belah pihak aku akan menikah dengannya. Pergulatan bathin inilah yang
membuatku begitu sulit untuk memejamkan mataku. Hatiku begitu menolak
akan kehadirannya yang begitu cepat. Aku tidak yakin apakah aku bisa
bahagia dengannya atau bisakah aku membahagiakannya sedangkan
benih-benih cinta untuknya tidak ada sama sekali.
Tak kuasa menahan jeritan hati aku pun menangis sejadi-jadinya. Angin
malam bulan dan bintang menjadi saksi kegalauan hatiku. Air mata ini
mengalir begitu desar dan tak mampu ku tahan lagi. Dengan linangan
airmata aku mencoba untuk menata kesadaranku kembali. Aku mencoba untuk
menerima kenyataan yang ada. Mungkin inilah yang telah Allah tuliskan
untukku. Mungkin dialah jodoh yang telah Allah tetapkan untukku.
ke-tidak keikhlasanku malah akan membuatku menderita.
Setelah sedikit tenang ku jamah buku diaryku kecoret nama Hafidz dari
diary aku..sebuah nama yang melekat begitu erat di dalam hatiku dan
menjadi penghias buku diaryku..dengan harapkan degan tercoretnya namanya
di buku diaryku tercoret juga namanya di dalam hatiku.meskipun tak
semudah itu. Kini aku harus terima kenyataan yang ada karena yang
terbaik menurutku belum tentu terbaik menurut Allah.
Tanganku begitu lincah menari, menggoreskan tinta hati ke selembar
kertas berharap setelah itu tak ada lagi kegaulaan dan kegundahan,
berharap ketidak ikhlasan ini berubah menjadi keridhoan.
Diary...
Saat ini hanya keikhlasan yang hanya mampu membuatku lepas dari kegundahan hati
Mungkin saat ini aku tak mencintainya
Karena di hatiku bukan namanya yang bertahta
Namun nama seseorang yang aku cinta meskipun aku tau dia bukan siapa-siapa
Diary..
Selama ini diri ini selalu bermimpi kalau dia kelak yang akan datang meminangku
Namun..kenyataan berkata lain.
Justru seorang lelaki yg belum kenal yang datang meminangku..
Ingin hati menjerit
Ingin diri berontak
Namun untuk apa??
Apa hanya untuk mengikuti egoku yang besar
Diary..
Tidak ada alasan untuk aku menolak perjodohan ini
Dia laki-laki yang baik yang masuk dalam kriteriaku
Mungkin dia-lah yang telah Allah pilihkan untukku
Yang akan menjadi kekasih halalku.
Diary..
Akan ku hapus namanya dari dalam hatiku
Akan aku isi hatiku dengan namanya
Meskipun saat ini hati ku masih menolak
Namun seiring berjalannya waktu hati ini akan menerima kehadiranyya
Diary..
Kini keputusan telah ku ambil
Dan pilihan telah ku tentukan
Aku akan selalu berusaha untuk berdamai dengan keadaan
Karena pilihan yang telah Allah tentukan tidak akan pernah mengecewakan..
****_______******
"Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik
bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik
bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS al-Baqaroh :
216)
______________________________
Mentari duha bersinar begitu indah, kehangatannya mampu mengusir rasa
kantuk yang tersisa, embun-embun di dedaunan nampak indah bak mutiara
yang bersinar. Seminggu sudah berlewatkan dari peristiwa itu , hati ini
sudah sedikit ikhlas menerima kenyataan yang ada. Dalam waktu satu
minggu ini aku merenung memikirkan setiap kejadian-kejadian yang terjadi
dalam hidupku. Tak ada hal kebetulan semua pasti sudah ada yang
mengatur. Dan tidak akan ada yang sia-sia dalam pengaturannya.
Liburan panjang sekolah telah pun usia. Hari ini adalah hari pertama aku mulai mengajar kembali.
Berbagi ilmu untuk anak bangsa dengan harapan suatu saat anak-anak
bangsa lahir menjadi anak-anak yang cerdas bukan hanya cerdas dalam
urusan dunianya namun juga urusan akhiratnya.
Jarak antara
rumah dan tempat aku mengajar tidak begitu jauh, sehingga aku lebih
memilih berjalan kaki, di samping bisa menyehatkan badan aku juga bisa
menghirup udara pagi yang segar lebih lama. Dan setiap langkah kaki yang
terayun aku gunakan untuk berdzikir kepada-Nya dengan harapan setiap
langkah yang aku ayunkan menjadi pahala.
***
"Assalamu'alaikum Ibu Nisa,". Terdengar suara orang menyapaku, suara
yang tak asing di telingaku..suara itu..ya aku kenal suara itu. Bisikku
lirih.Suara seseorang yang selama ini aku rindu, aku pasti tidak salah
dengar itu emang suara Hafiz tapi mana mungkin dia ada disini bukankah
dia masih di Malaysia menyelesaikan S2 nya.
Ku palingkan
wajahku kebelakang untuk memastikan siapa gerangan yang berucap salam
padaku belum sempat aku membalas salamnya, aku melihat senyumnya. Sebuah
senyuman yang mampu meluluhkan hatiku, yang membuat jantungku berdetak
lebih kencang dan seakan-akan aliran darahku berhenti mengalir. Sebuah
moment yang tidak pernah aku duga sebelumnya akan bertemu dengannya di
sekolah ini. Emang tidak mustahil jika dia berada di tempat ini. Selain
dia anak pak kepala sekolah, dulu dia termasuk salah satu pengajar di
sekolah ini. Namun kehadirannya saat ini tidak aku duga sama sekali. Dan
mengapa dia harus datang lagi, disaat aku mulai bisa melupakannya.
Disaat aku mulai bisa mengikis namanya kini dia muncul lagi di
hadapanku. Kedatangannya pasti akan membuatku bertambah sulit untuk
melupakannya
"Nisa kenapa bengong gitu kayak lihat syetan aja, " tegurnya begitu melihat aku bengong tanpa ekpresi dan tanpa balasan salam.
Aku tersipu menahan malu, aku tak tahu mau berkata apa padanya. Aku
bak patung yang bernyawa di hadapannya. Aku tak tahu apa yang harus aku
lakukan, aku takut jika nanti aku salah berucap karena terlalu banyak
pertanyaan-pertanyaan yang tak ada jawabannya bermain di
otakku.Melihatku diam tanpa kata Hafiz pun mencoba mencairkan keadaan.
"Nis, selamat yah. Aku dengar dari ayah, Nisa sudah tunangan, ternyata
aku datang terlambat, semoga Nisa kelak bisa bahagia dengan pendamping
hidup Nisa. "
Setelah berucap demikan Hafiz meninggalkanku
sendirian di dalam kebisu-an ku, lagi-lagi aku seperti patung tak
bernyawa. Tak terasa butiran-butiran permata mengalir dari kedua bola
mataku, aku tak tahu mengapa aku menangis, aku tak tahu untuk apa
tangisan ini yang pasti aku sedih mendengar pernyataannya. Mengapa harus
sekarang dia datang padaku, setelah ada orang lain yang meminangku
kenapa tidak dari dulu. Ternyata selama ini cintaku padanya tidak
bertepuk sebelah tangan. Namun semua sudah terlambat, aku sudah
bertunangan dan dalam hitungan bulan aku akan melaksanakan resepsi
pernikahan.
Hafiz adalah senior aku saat aku duduk di bangku
kuliah, aku mengenalnya saat aku ikut kegiatan Rohis di kampus, dia-lah
yang menjadi ketua Rohis. saat itu aku ada tugas dari dosen ku untuk
membuat makalah tentang kegiatan-kegiatan anak Rohis. Dari situlah aku
mengenalnya, pembawaannya yg supel, ramah dan tingkahlakunya yang sopan
membuat aku menaruh hati padanya secara diam-diam. Dan belakangan baru
aku tahu kalau rumahnya tidak jauh dari tempat tinggalku dan ayahnya
adalah guru ngajiku
Setelah aku menyelesaikan perkuliahanku,
aku di minta oleh ayahnya untuk mengabdi dimadrasan yang beliau pimpin.
Aku pun langsung menerimanya karena cita-citaku dari dulu adalah ingin
menjadi seorang guru, ternyata Hafiz juga mengajar dimadrasah itu.
Benih-benih cinta ini semakin tumbuh subur apalagi setiap hari aku
selalu bertemu dengannya. Namun setahun yang lalu dia pergi ke negeri
jiran untuk melanjutkan S2, kepergiannya membuat aku merasa kehilangan.
Dia pergi tanpa pesan dari saat itulah aku merasa kalau cintaku tidak
akan pernah menjadi realita
***
Suasana kelas yang
sepi seakan menjadi saksi bisu, hanya bangku dan kursi yang berderet
rapi yang menjadi teman diri. Semua anak didik sudah tiada lagi, semua
guru pun sudah pulang kerumah masing-masing untuk berkumpul dengan anak
dan istri. Tinggal aku sendirian di dalam ruangan itu. aku merasa amat
enggan untuk pulang ke rumah. Kaki ini rasanya tak kuasa untuk berdiri,
jiwa ini rasanya tidak bersemangat untuk meniti hari.
Suara
Adzan berkumandang begitu indah dari surau samping madrasah. Aku
tersadar dari lamunanku, tak terasa sudah hampir satu jam aku duduk
sendirian . Aku pun beranjak pergi meninggalkan ruangan dan bergegas ke
surau guna melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu
mengerjakan sholat fardhu. Surau nampak sepi tak ada jama'ah perempuan
selain aku. Aku masih sempat berjama'ah meskipun hanya sebagai jama'ah
masbuk.
Seusai sholat hati ini seakan-akan damai, gundah di
hati mulai menghilang, perasaan yang berkecamuk di dalam hati mulai
sirna.ingin rasanya aku duduk berlama-lama berdua- duaan dengan Rabbku,
ingin ku adukan segala resah dan gundahku pada-Nya, meskipun tanpa aku
kasih tahu pun Allah sudah tahu semuanya.hanya kepada Allah-lah tempat
aku mengadu, tempat aku merintih,hanya DIA-lah tempat curhat yang
terbaik. Ku angkat tanganku dan ku tengadahkan wajahku di hadapan-Nya.
Dari mulutku keluar bait-baik doa yang indah.
Ya Rabb..
Kini hamba bersimpuh di hadapan-Mu
Di dalam rumah-Mu yang indah dan damai
Hamba yang penuh dosa
Hamba yang bergelimang maksiat
Hamba yang terlalu sering mendurhakai-Mu
Hamba yang jarang mengingat-Mu
Ampuni segala dosa-dosa hamba
Ya Allah..
Engkau tahu kalau hati hamba sedang gelisah
Karena kegelisahan ini Engkau juga yang menciptakan
Sangat mudah bagi-Mu membolak-balikkan hati hamba
Berikanlah ketenangan dan ketentraman di hati hamba
Jangan biarkan setan-setan tertawa di atas kegelisahan hatiku
Tentramkan hatiku
Berilah setitik kesejukan dalam jiwaku agar aku bisa berpikir secara
jernih, dan tidak berlarut-larut dalam mengikuti perasaanku
Ya Rabbul Izati
Ajari aku menjadi dewasa, bukan hanya dewasa dalam berpikir. Juga dewasa dalam bertindak dan bertutur kata.
Dewasa dalam menyikapi setiap masalah yang ada
Dan Dewasa dalam meniti kehidupan
Ya Illahi..
Engkau tahu kalau di hatiku masih tersimpan namanya
Hapuskan namanya dari dalam hatiku
Jangan biarkan nama dia yang bertahta di hatiku
Aku tidak mau terus-menerus menzinai hatiku ini
dengan memikirkan seseorang yang bukan siapa-siapa untukku.
Ya Allah..
Kini semuanya aku pasrahkan kepada-Mu
Karena di tangani-Mu lah semua menjadi indah
Hidup dan matiku aku serahkan hanya pada-Mu
*****______******
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan
mengingat Allah. ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi
tentram." (QS ar-Ra'd : 28)
****
Janur kuning yang terpancang di depan rumahku melambai-lambai tertiup
angin, kursi dan meja yang di desain sedemikian cantiknya berderet rapi,
tak ketinggalan dengan kursi pelaminan yang di rancang bak singgasana
ratu dan raja. Sedemikian mewahnya acara pernikahanku. Sungguh sangat
bertolak belakang dengan keinginanku. Bukan seperti ini pernikahan yang
aku harapkan. Untuk apa menghabiskan banyak uang hanya untuk membuat
resepsi pernikahan. Terlalu mubadzir menurutku. Namun aku tidak bisa
berbuat apa-apa semua sudah di rancang oleh orangtua calon suamiku
meskipun sebelumnya oom dan tanteku pernah mengutarakan keberataannya
akan hal itu.
Waktu merambat begitu cepat, tiga bulan aku lewati tanpa terasa. Hari
ini adalah moment yang bersejarah untukku. Hari di mana hijab Qabul di
ikrarkan, aku akan terikat oleh perjanjian besar yang karena
perjanjian itu Arasy Allah ikut bergetar. Sebentar lagi awal kehidupan
baru akan di mulai, yaitu kehidupan dua insan manusia yang berbeda
karakter dan pandangan di satukan dalam biduk rumah tangga.
Dua minggu yang lalu keluarga dari Hamdan berkunjung kerumah ku. ini
yang kedua kali aku melihat sosok yang bernama Hamdan. Semenjak acara
pertunangan itu aku tidak pernah bertemu denganya. Kami hanya
berkomunikasi lewat HP itu pun kalau ada hal-hal yang penting untuk di
bicarakan.
Hamdan adalah anak pertama dari keluarga pengusaha yang kaya raya,
sebagai anak pertama apalagi anak lelaki satu-satunya menjadikan dia
amat di sayang oleh orangtuanya apalagi ibunya. dia mempunyai adik
perempuan yang se-umuran dengan ku namanya mawar, gadis yang sangat
cantik menurutku. Suatu hari ketika aku sedang membantu tante
beres-beres di dapur dia mengampiriku. Dia berbicara banyak tentang
kehidupan abangnya. Menurutnya meskipun abangnya sangat di sayang sama
ibunya tidak menjadikanya tumbuh menjadi lelaki yang manja. Dia amat
mandiri dan penurut apapun yang dikatakan orangtuanya selalu di "iya"
kannya selama itu baik untuk dirinya dan orang tuanya. Kekayaan yang dia
miliki dan title yang berderet di belakang namanya juga tidak lantas
membuatnya sombong. Rasa tenggang rasa dan tanggung jawabnya begitu
besar. Dan semua itu di buktikannya dengan mendirikan sebuah panti
asuhan untuk anak-anak jalanan.
***
Iring-iringan pengantin sudah tiba, pak penghulu sudah lama menunggu.
Dan para tetamu sudah mulai berdatangan,Aku pun sudah siap dengan gaun
pengantin yang aku kenakan, sesaat ku pandangi wajahku di depan cermin.
Ada airmata yang keluar dari bolamataku, aku tak tau kenapa hati ini
seakan-akan belum ikhlas, rasa ragu masih menancap di relung hatiku, aku
tidak yakin bisa bahagia dan aku juga tidak yakin bisa membahagiakan
suamiku, apalagi benih-benih cinta untuknya belum tumbuh di hatiku.
"Aku terima nikah dan kawinnya Nisa syifa' juwairiyah binti Muhammad
Ilyas dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai.
Ijab-Qabul telah di ucapkan, perjanjian telah di ikrarkan. Dua insan
manusia telah disatukan. ucapaan do'a dan selamat aku dapatkan dari para
tamu. Dari wajahku tak nampak keceriaan dan kebahagiaan. Hamdan yang
saat ini duduk persis di sebelah ku lebih banyak diam dan hanya
sekali-kali memandangku. Aku dengannya bagai orang asing yang baru
kenal, tidak ada kata terucap, hanya senyuman yang bisa kami lakukan
untuk para tamu sebagai tanda terimakasih dan rasa hormat kami kepada
mereka. Banyak dari mereka yang mengatakan kalau kami adalah pasangan
yang serasi, mereka tidak tahu isi hati kami saat ini.
***
Kamar tidur yang begitu luas dengan ranjang sangat besar berhiaskan
beraneka macam bunga di atasnya, disamping kanan kirinya terdapat meja
kecil dengan ukiran yang sangat indah, di pojok kamar itu ada sebuah
kamar mandi yang sangat mewah, "bak sebuah kamar ratu inggris" gerutuku
dalam hati, aroma semerbak wangi dari bermacam-macam bunga itu membuat
aku sedikit pusing, dari dulu aku emang paling tidak suka dengan
bau-bauan yang tajam, sedang asyik mengamati kamar baruku terdengar
bunyi pintu di buka.
"Assalamu'alaikum Dek Nisa, maaf saya masuk tanpa mengetuk pintu, Dek
Nisa Abang minta maaf jika pernikahan ini kesannya di paksakan, abang
juga minta maaf bukan maksud abang menghancurkan masa depan Nisa, abang
tau kalau Nisa tidak suka dengan pernikahan ini. Sebelumnya abang juga
ragu dengan pernikahan ini, abang sudah terlanjur menyetujuinya dan
abang tidak mau melihat orangtua abang kecewa dengan sikap abang. "
Ucapnya sambil ia berdiri tepat di belakangku, aku sendiri tidak
berani memalingkan wajahku kebelakang, aku belum berani menatap
wajahnya. Meskipun dia sekarang adalah seseorang yang halal untukku
namun aku merasa asing dengannya.
"Nisa, abang tak kan pernah memaksa untuk nisa mencintai abang, dan
abang juga jika tidak akan memaksa Nisa untuk melakukan hubungan badan
dengan abang. Abang tidak mau memperkosa istri abang sendiri. Untuk saat
ini biarlah abang tidur di kamar sebelah. Jadi Nisa tak perlu cemas dan
takut karena abang tidak akan pernah memaksa nisa, Untuk sekian kalinya
abang minta maaf untuk semua ini." Lanjutnya.
Lagi-lagi aku masih belum berani memalingkan wajahku, aku masih dalam
posisiku yang semula, sampai terdengar pintu kamar tertutup yang
bertanda hamdan sudah meninggalkan kamar. Aku rasa begitu egoisnya
diriku betapa angkuhnya diriku, tidak sopannya diriku padanya, padahal
sekarang ini aku adalah istrinya yang mempunyai kewajiban untuk
melayaninya, menghormatinya dan membahagiakannya, namun apa yang aku
berbuat padanya sungguh bukan yang agama aku ajarkan. Namun mengapa saat
ini egoku lebih tinggi. Aku lebih suka mendengarkan kata hawa nafsuku
dari pada kata hatiku.
***___***
Tanpa di sadari kini sudah setengah tahun aku bergelar sebagai istri
namun sampai saat ini aku belum benar-benar menjadi seorang istri, aku
belum bisa menjalankan peranku dengan baik. Tidak ku pungkiri Hamdan
begitu baik, perhatian, dan dia tak pernah menuntut apapun dariku, dia
selalu memenuhi kebutuhanku. Nafkah darinya selalu ku dapat.sampai suatu
hari hanya karena aku demam dia rela untuk tidak masuk kerja, dia lebih
rela menjagaku, ia amat sabar dengan ulahku yang manja dan
kekanak-kekanakan. Namun entah kenapa sikap ku kepadanya masih saja
dingin,aku masih belum bisa mencintainya, egoisku masih begitu besar.
Aku masih tidak mau mengakui kalau aku mulai mengaguminya. Aku tidak mau
mengakui kalau benih-benih cinta untuknya mulai tumbuh di hatiku.
Selama enam bulan pernikahanku, aku belum pernah di sentuh oleh
suamiku.meskipun kami tinggal serumah kami jarang berkomunikasi, kami
lebih sibuk dengan aktifitas masing-masing. Hamdan lebih suka
menghabiskan waktunya di kamarnya begitu juga dengan diriku, meskipun
sekali-kali kita sarapan dan juga makan malam bersama.
Malam ini tidak seperti malam biasanya Hamdan sampai larut malam belum
juga sampai kerumah, aku di buat cemas olehnya, berulang kali aku
telphone ke hp nya namun tidak juga aktif.aku telpon ke tempat kerjanya
tak ada jawaban. Aku tak tau mengapa aku begitu khawatir padanya, aku
takut terjadi apa-apa apadanya, sampai apapun yang aku lakukan selalu
serba salah, aku sendiri dalam Kegelisahan.yang ada dalam pikiranku
hanya dia..iya hanya dia suamiku. Entah mengapa malam ini rasa kantuk
itu hilang begitu saja, keletihan seakan-akan sirna yang ada saat ini
adalah keinginan untuk melihatnya, melihat wajahnya, melihat senyumnya,
dan mendengar suaranya, saat itu juga aku berjanji pada diriku sendiri
kalau aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya, begitu dia pulang nanti
aku akan bilang kepadanya kalau aku mencintainya. Aku ingin menjadi ibu
dari anak-anaknya.
Entah apa yang membuatku ingin masuk kekamarnya. Semenjak aku hidup
bersama dengannya aku belum pernah masuk kekamarnya. Rasa rindu
kepada-nyalah yg mangantarkan aku memasukinya, aku mengamati kamar nya
dari sudut ke sudut, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah buku
berwarna hitam yang bergeletak di atas meja kerjanya. Ku ambil buku itu
ku pandangi sekilas karena semakin penasaran dengan isinya aku pun
memberanikan diri untuk membukanya. Aku baca lembar demi lembar. Tak
terasa airmataku mengalir saat ku baca tulisan itu. Aku tersadar akan
sifat ku selama ini. Ternyata selama ini suamiku begitu tersiksa karena
ulahku
"...Allah telah menganugerahkan padaku istri yang begitu sempurna, dia
cantik, dan pintar, laki-laki mana yang tidak bahagia mendapatkannya,
saat pertama kali melihatnya aku sudah menyukainya, meskipun saat ini
aku belum bisa mendapatkan cintanya.. Namun aku yakin suatu saat dengan
berjalannya waktu dia akan mencintaiku, Begitu rindunya diri ini
menyentuhnya, membelai rambut indahnya. Entah kapan itu terjadi tapi
yang pasti suatu saat nanti cintanya akan aku dapatkan. Sehingga kami
akan saling mencintai hingga anak cucu kami..".
Sekitar pukul 01.00 terdengar pintu depan terbuka, aku yang saat itu
masih duduk di sofa ruang depan segera berlari kearahnya dan langsung
memeluknya. hamdan begitu terkejut dengan reaksiku, dia masih berdiri di
depan pintu diam tanpa kata. air mataku menetes, aku menangis dalam
pelukannya. Kini tangan hamdan membelai kepalaku dengan lembut sangat
lembut. Seakan-akan dia takut kalau aku menolaknya.
"Nisa, apakah arti pelukan ini?" Tanyanya dengan suara lirih
Aku tidak menjawab pertanyaanya, yang ada aku malah mempererat pelukanku
dan airmataku semakin deras mengalir sehingga membasahi dadanya. Tak
ada kata yang teucap, kami bak dua insan manusia yang saling mencintai
yang sudah lama tidak bertemu, hati kami saling berbicara, menyalurkan
kerinduan yang ada. Aku merasa damai dalam pelukannya,
"Bang, Nisa minta maaf karena selama ini Nisa belum bisa menjadi istri
yang baik untuk abang, Nisa tidak menjalankan tanggung jawab Nisa
sebagai istri abang, Nisa tidak melayani abang dengan baik, maafkan Nisa
Bang, betapa nisa selama ini mendurhakai suami Nisa sendiri. Suami yang
harusnya di hormati dan di taati. Nisa begitu berdosa kepada abang dan
juga kepada Allah, Nisa hampir mengesampingkan aturan Allah. Abang, nisa
mohon maafkan Nisa. Nisa mau melakukan apa saja asal abang memaafkan
Nisa. Dan nisa pun sudi kalau nisa suruh cium kaki abang asal abang
Ridho dan mau memaafkan kesalahan-kesalahan Nisa. Ucap Nisa masih dalam
tangisnya."
Tak ada jawaban dari mulut Hamdan, hanya detak jantungnya yang tidak beraturan terdengar keras di telingaku.
"Nisa coba tatap mata abang, " Nisa pun melepaskan pelukannya dan
memberanikan diri menatap mata hamdan ini kali pertamanya Nisa melakukan
itu, dalam hatinya ia tidak memungkiri betapa indah mata suaminya.
"Apakah Nisa lihat ada sorot mata kebencian dari mata abang? Apakah Nisa
lihat di mata abang cinta yang besar untuk Nisa, perlu Nisa tau Abang
begitu mencintai Nisa begitu cintanya abang ke nisa abang tidak mau
kalau hati Nisa tersakiti. Telah kupendam rasa rindu ini untuk Nisa.
Berharap suatu saat Nisa akan menerima abang sebagai suami Nisa tanpa
ada paksaan. Setiap bait-bait doa yang abang panjatkan kepada Allah
salah satunya adalah agar nisa mau membuka hati untuk Abang. Dan abang
yakin suatu saat Allah akan mengabulkan doa abang."
Mendengar kata-kata yang terucap dari mulutnya airmataku semakin deras
mengalir diri ini semakin merasa bersalah. Betapa ruginya diri ku telah
menyia-nyiakan seorang suami yang begitu baik, yang tak ada celah
kekurangan sedikitpun."
"Nisa kini abang minta ucapkan kata itu untuk abang, ucapkan kalau Nisa
mencintai abang, ucapkan kalau Nisa mau menjadi ibu untuk anak abang."
Pinta Hamdan
"Iya Bang Nisa mencintai abang, Nisa ingin hidup selamanya bersama abang
dalam suka dan duka dan Nisa siap menjadi Ibu dari anak-anak abang."
Udara yang dingin, bulan dan bintang yang bersinar terang kini menjadi
saksi akan cinta kami, mereka seakan-akan iri akan kebahagiaan kami.
Kini cinta itu telah berirama indah. Dengan irama tasbih yang bermuara
kepada cinta-Nya.
**********______________**********
"Laki-laki (suami ) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah
telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain
(perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari
hartanya. maka perempuan-perempuan yang sholeh adalah mereka yang taat
(kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena
Allah telah menjaga mereka..."(QS an -Nisa :34)