23 Des 2013

Jika Kau Menjadi Istriku Nant








Jika seorang lelaki ingin menarik hati seorang wanita, biasanya yang ditebarkan adalah berjuta-juta kata puitis bin manis, penuh janji-janji 
untuk memikat hati, “Jika kau menjadi istriku nanti, percayalah aku satu-satunya yang bisa membahagiakanmu,” atau  “Jika kau menjadi istriku nanti, hanya dirimu di
hatiku” dan “bla…bla…bla…” Sang wanita pun tersipu malu, hidungnya kembang kempis, sambil menundukkan kepala, “Aih…aih…, abang bisa aja.” Onde mande, rancak bana !!!ALAMAK 


Lidah yang biasanya kelu untuk berbicara saat bertemu gebetan, tiba-tiba jadi luwes, kadang dibumbui ‘ancaman’ hanya karena keinginan untuk mendapatkan doi seorang. Kalo ada yang coba-coba main mata ama si doi, “Jangan macem-macem lu, gue punya nih!” Amboi… belum dinikahi kok udah ngaku-ngaku miliknya dia ya? Lha, yang udah nikah aja ngerti kalo pasangannya itu sebenarnya milik Allah SWT.


Emang iya sih, wanita biasanya lebih terpikat dengan lelaki yang bisa menyakinkan dirinya apabila ntar udah menikah bakal selalu sayang hingga ujung waktu, serta bisa membimbingnya kelak kepada keridhoan Allah SWT. 


Bukan lelaki yang janji-janji mulu, tanpa berbuat yang nyata, atau lelaki yang gak berani mengajaknya menikah dengan 1001 alasan yang di buat-buat.


Kalo lelaki yang datang serta mengucapkan janjinya itu adalah seseorang yang emang kita kenal taat ibadah, akhlak serta budi pekertinya laksana Rasulullah SAW atau Ali bin Abi Thalib r.a.,


ini sih gak perlu ditunda jawabannya, cepet-cepet kepala dianggukkan, daripada diambil orang lain, iya gak? Namun realita yang terjadi, terkadang yang datang itu justru tipe seperti Ramli, Si Raja Chatting, atau malah Arjuna, SiPencari Cinta, yang hanya mengumbar janji-janji palsu, lalu bagaimana sang wanita bisa percaya dan yakin dengan janjinya?


Nah…
Berarti masalahnya adalah bagaimana cara kita menjelaskan calon pasangan untuk percaya dengan kita? Pusying…pusying… gimana caranya ya?


Ih. .nyantai aja, semua itu telah diatur dalam syariat Islam kok, karena caranya bisa dengan proses ta’aruf.


Apa sih yang harus dilakukan dalam ta’aruf? Apa iya, seperti ucapan janji- janji seperti diatas?
Ta’aruf sering diartikan ‘perkenalan’, kalau dihubungkan dengan pernikahan maka ta’aruf adalah proses saling mengenal antara calon laki-laki dan perempuan sebelum proses khitbah dan pernikahan.


Karena itu perbincangan dalam ta’aruf menjadi sesuatu yang penting sebelum melangkah ke proses berikutnya. Pada tahapan ini setiap calon pasangan dapat saling mengukur diri, cocok gak ya dengan dirinya. Lalu, apa aja sih yang mesti diungkapkan kepada sang calon saat ta’aruf?


1. Keadaan Keluarga
Jelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga masing-masing, berapa jumlah sodara, anak keberapa, gimana tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Bukan apa-apa, siapa tahu dapatcalon suami yang anak tunggal, bokap ama nyokap kaya 7 turunan, sholat dan ibadahnya bagus banget, guanteng abis, lagi kuliah di Jepang (ehm), pokoknya selangit deh! Kalo ketemu tipe begini, sebelum dia atau mediatornya selesai ngomong langsung kasih kode, panggil ortu ke dalam bentar, lalu bilang “Abi, boljug tuh kaya’ ginian jangan dianggurin nih. Moga-moga gak lama lagi langsung dikhitbah ya Bi, kan bisa diajak ke Jepang!” Lho?


2. Harapan dan Prinsip Hidup
Warna kehidupan kelak ditentukan dengan visi misi suatu keluarga lho,terutama sang suami karena ia adalah qowwan dalam suatu keluarga.
Sebagai pemimpin ia laksana nahkoda sebuah bahtera, mau jalannya lempeng atau sradak-sruduk, itu adalah kemahirannya dalam memegang kemudi. Karena itu setiap calon pasangan kudu tau harapan dan prinsip hidup masing-masing. Misalnya nih, “Jika kau menjadi istriku nanti, harapanku semoga kita semakin dekat kepada Allah” atau “Jika kau menjadi istriku nanti, mari bersama mewujudkan keluarga sakinah, rahmah, mawaddah.” Kalo harapan dan janjinya seperti ini, kudu’ diterima tuh, insya Allah janjinya disaksikan Allah SWT dan para malaikat. Jadi kalo suatu saat dia gak nepatin janji, tinggal didoakan, “Ya Allah… suamiku omdo nih, janjinya gak ditepatin, coba deh sekali-kali dianya…,” hush…! Gak boleh doakan suami yang gak baik lho, siapa tahu ia-nya khilaf kan?


3. Kesukaan dan Yang Tidak Disukai
Dari awal sebaiknya dijelasin apa yang disukai, atau apa yang kurang disukai, jadinya nanti pada saat telah menjalani kehidupan rumah tangga bisa saling memahami, karena toh udah dijelaskan dari awalnya. Dalam pelayaran bahtera rumah tangga butuh saling pengertian, contoh sederhananya, istri yang suka masakan pedas sekali-kali masaknya jangan terlalu pedas, karena suaminya kurang suka. Suami yang emang hobinya berantakin rumah (karena lama jadi bujangan), setelah menikah mungkin bisa belajar lebih rapi, dll.


Semua ini menjadi lebih mudah dilakukan karena telah dijelaskan saat
ta’aruf. Namun harus diingat, menikah itu bukan untuk merubah pasangan lho, namun juga lantas bukan bersikap seolah-olah belum menikah. Perubahan sikap dan kepribadian
dalam tingkat tertentu wajar aja-kan? Dan juga hendaknya perubahan yang terjadi adalah natural, tidak saling memaksa.


4. Ketakwaan Calon Pasangan
Apa yang terpenting pada saat ta’aruf? Yang mestinya menduduki prioritas tertinggi adalah bagaimana nilai ketakwaan lelaki tersebut. Ketakwaan disini adalah ketaatan kepada Allah SWT lho, bukan nilai ‘KETAKutan WAlimahAN’ Karena apabila seorang lelaki senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya. Gimana dong caranya untuk melihat lelaki itu bertakwa atau tidak? Tanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, misalnya kerabat dekat, tetangga dekat, atau sahabatnya tentang ketaatannya menjalankan ketentuan pokok yang menjadi rukun Iman dan Islam dengan benar. Misalnya tentang sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, atau pula gimana sikapnya kepada tetangga atau orang yang lebih tua, dan lain-lain. Apalagi bila lelaki itu juga rajin melakukan ibadah sunnah, wah… yang begini ini nih, ‘calon suami kesayangan Allah dan mertua.’ Inget lho, ta’aruf hanyalah proses mengenal, belum ada ikatan untuk kelak pasti akan menikah, kecuali kalau sudah masuk proses yang namanya khitbah. Nah kadang jadi ‘penyakit’ nih, karena alasan “Kan masih mau ta’aruf dulu…” lalu ta’rufnya buanyak buanget, sana-sini dita’arufin. Abis itu jadi bingung sendiri, “Yang mana ya yang mau diajak nikah, kok sana-sini ada kurangnya?”


Wah…, kalo nyari yang mulia seperti Khadijah, setaqwa Aisyah atau setabah Fatimah Az-Zahra, pertanyaannya apakah diri ini pun sesempurna Rasulullah SAW atau sesholeh Ali bin Abi Thalib r.a.? 


Nah lho

Tunggulah Aku Menjadi Imam-Mu Sesungguhnya ''Cinta itu Amanah'' Bagiku

FotoIjinkanlah aku menjadi calon imammu dalam Keluarga dan Sholatmu..

Yang tidak mencintaimu dari fisik dari harta dan pangkat yang kau miliki...

Tetapi mencintaimu karena Allah, agama dan akhlakmu...

Jangan terlalu cepat kau menjawab agar tidak sakit, akan tetapi Istikharahlah dirimu.

Tunggulah aku untuk menjemput dirimu duhai Calon Bidadariku...
 Cinta adalah fitrah bagi setiap manusia yang Allah karuniakan ke dalam hati-hati manusia. Cinta dapat membuat seseorang lebih dekat kepada Allah, bisa juga menjadi sebab jauh dari Allah bahkan mendapat murka Allah (na’udzubillah). Indahnya cinta, adalah cinta karena Allah yang terikat dalam hubungan yang halal.
…Aku ingin kamu…cintaku, tetapi dengan rahmat Allah dan bukan bisikan syaitan…
Jika kamu mencintaiku, jangan mengakui cintamu kepadaku melalui cara yang haram,
Hal itu tidak akan membuatku senang dan justru akan membuatku menjauh!
Permainan cinta, jangan menarik hatiku,
Jika kamu mencintaiku, bersabarlah dan aku akan mengetuk pintu rumahmu pada saat yang tepat,
Jangan beri aku keistimewaan yang aku belum pantas mendapatkannya,
Jauhkan aku dari kamu, dan aku akan datang padamu,
Jika kamu mendekatiku, aku akan menjauh darimu,
Jangan mencintaiku, karena aku ingin kamu polos dalam cinta,
Aku ingin mengajarimu cinta pada saat yang tepat datang dan pada saat kamu menjadi milikku,
Hanya ketika kita terikat bersama dibawah ridho Allah Ta’ala,
Jangan katakan padaku apa yang kamu rasakan, jangan memberiku waktumu,
Jangan dorong aku untuk kehilanganmu,
Aku adalah pria yang tidak ingin melihat seseorang yang ia cintai melakukan dosa atau hidup dalam sebuah cinta yang terlarang di belakang keluarganya,
Aku tidak ingin kamu merasa menyesal dan tidak ingin hatimu sakit,
Biarkan aku dibawah batas yang tidak ingin aku sebrangi,
Pertahankan apa yang indah dalam dirimu,
Aku ingin kamu yang polos, suci dan murni,
Aku ingin kamu…cintaku, tetapi dengan rahmat Allah dan bukan bisikan syaitan,
Dan dengan begitu, hanya dengan begitu, aku akan menghadapi segalanya dan akan siap untuk melalui kesulitan-kesulitan untuk mendapatkanmu,
Jangan menjadi gampangan, karena kemudian mungkin aku tidak menghargaimu,
Jangan cintai aku sekarang, maka aku akan membencimu!
Hatiku ingin kamu dan tidak ingin kehilanganmu,
Aku tidak ingin kamu hanya menjadi angan-angan sekilas untukku,
Aku ingin kamu sebagai seorang istri, ibu dari anak-anakku, 
Mungkinkah nanti aku akan menjadi setia padamu jika aku mencoba untuk merobek kesucianmu sekarang?
Mungkinkah nanti aku akan menjadi setia padamu jika aku mendorongmu untuk mengkhianati keluargamu?
Bagaimana aku percaya sebuah cinta yang tumbuh dibawah murka Allah?
Untuk membuatmu menjadi milikku melalui nikah adalah cara Islam,
Maka tunggulah dengan sabar dan jangan cemas,
Mencintaimu, berarti untuk melindungimu,
Mencintaimu adalah untuk membawamu lebih dekat kepada Allah dan AgamaNya,
Untuk menjagamu bukan untuk membunuh keindahan dalam dirimu.
Dari,
Calon suamimu (insya Allah)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa’: 1)
Surat Cinta Seorang Pria Kepada Muslimah yang Dicintai

SURAT CINTA UNTUKMU LAGI


Bismillah…..,

Assalamualaikum cinta, apa kabar?

Apa kabar dengan hati yang lama tak pernah ku jumpa?

Apa kabar dengan hati yang masih dalam perjuangannya demi menggapai ridho-Nya?

Apa kabar dengan setia dan kejujuran?

Cinta…,

andai saja aku bisa mengungkap semua kata dan rasa dalam hati yang aku punya ini…,

maka seribu lembar kertas pun tak akan cukup untukku menuangkannya.

Banyak sekali cinta, banyak yang ingin aku ungkap secara langsung di hadapmu nanti.

Andai kau tahu, aku hambar tanpa pengisi kasih dan pedulimu padaku, andai saja kau tahu apa yang aku rasakan ini untukmu….

Cinta bukan yang bernama keegoisan rasa,

bukan yang megucap “bagaimana?” namun “ aku mengerti…”

bukan “ kamu di mana?” tapi “aku di sini….”

bukan “ aku ingin kamu seperti ini….” akan tetapi “ aku mencintaimu dengan apa adanya dirimu...”

sepinya diriku tanpa kau di sini, hampanya hatiku karena ku tahu dengan nyata kau tak berada di sampingku,

seringnya kau patahkan aku…., namun aku bukan seorang yang mudah menyerah…

aku bertahan, karena ada kejujuranku… untuk mengasihimu….

luka itu memang sakit cinta, akan tetapi lebih sakit lagi jika aku membohongi diri ini.

Mungkin aku bisa menggunakan dusta putihku, namun selama aku masih bisa menjaga kebaikan dalam jujurku, sungguh…

demi Dia yang Maha Menghargai, ku akan berjalan di sini tanpa ada paksa dari siapapun, dan yang utuh adalah hanya ada nurani dan hati yang suci.

Ketika luka – luka telah mengering,

Selama itu pula aku haus untuk merindukanmu,

pun selama luka itu masih basah dan masih pekat terasa ngilu di ulu hatiku.

Cinta,

inginnya aku bersamamu, menjaga hati mu, mendampingi mu ketika resah dan gundah melandamu,

ahh… cinta akankah kau tahu begitu dalamnya kasihku.

Sehingga semua luka dan kecewa itu tak akan mampu mengubahnya, sekalipun pernah kau memintanya untuk aku melakukannya.

Maafkan cinta, maafkan aku, karena aku terlalu jujur pada perasaanku.

Dan semua, semua…. masih tetap utuh pada tempatnya.

Rasa yang bercampur baur, ada duka, ada kecewa, namun ada pula rasa percaya di antara sejuta ragu, ada setitik cahya diantara gelapnya cakrawala.

Ketika smua terhempas karena sia – sia, maka akan ku coba pelajari kesedihan ini, kesakitan ini, dan ku anggap ini sebagai hadiah “besar”-Nya.

Derita ini adalah anugerah dan suatu kehormatan tersendiri bagiku di atasnya dan di bawah kekuasaan-Nya.

Jiwa tak akan pernah mengenal arti tegar jika ia hanya datar merasakan perjalanan hidupnya.

Hati tak akan pernah mengerti rasa sakit, jika ia selalu bahagia, Maha Suci Tuhan Semesta Alam atas segala rangakaian hidup yang sempurna ini.

Dan cinta….,

kau membuatku banyak belajar dalam sakitnya aku ketika aku terhujam mendekam dalam tebing bebatuan yang tajam.

Kau membuatku menjadi orang “ besar” dalam rasa kesyukuranku pada-Nya.

Terima kasih cinta, kau membuat aku menjadi jiwa yang sabar atas segala penantian dan pengertian.

Secuil apapun itu harapan adalah tetap menjadi harapan.

Dimana ia juga bisa tumbuh dari rasa kecewa, dari rasa luka.

Maka biarkanlah ia tumbuh menjadi dewasa dalam matangnya pemahaman.

Mungkin aku akan berdiri di atas rangakain jerami yang selalu ada di depanku ketika aku berjalan,

dan tiada lain adalah rasa sabar ketika aku harus membersihkannya ,

tiada lain dari rasa ikhlas ketika aku merasa lelah untuk merapikannya agar ia tak melukaiku.

Namun ketika goresan luka itu ada ,

tiada lain pula rasa bertahan dan pengupayaan untukku mengobatinya.

Dan tiada lain dengan rasa tulus aku melakukannya.

Begitu pula dengan mu cinta…,

jika pun harus ada air mata, maka biarlah ia menjadi teman sedihku untuk menyayangimu…

jika ada rasa sakit mendera, maka biarkanlah ia menjadi teman setiaku dalam bertahan atas segala kejujuranku padamu ….

Sungguh aku bersyukur,

karena aku mengenalmu cinta,

sekalipun aku tak pernah utuh memilikimu,

sekalipun utuh yang kau punya takhanya untukku…

jangan tanyakan tentang kesedihan yang kau pun tahu cinta,

jangan bertanya tentang rasa sakitku, bila kau pun merasakannya…

aku memang manusia biasa, yang tak sempurna, dan kadang salah…

namun rasa kasihku telah mengalahkan rasa sakitku,rasa asihku mengalahkan egoku …dan sayangku….,

telah mampu mengobati luka – luka itu.

Cinta,

kapan aku bisa menyentuhmu?

Dimana aku bisa menemui hangatnya jemarimu mengusap semua peluhku?

Ataupun sebaliknya aku yang mengusap peluh di wajahmu…

Dan aku yang akan membelai lembut bahumu ketika kau goyah di jalan perjuanganmu bersamaku, agar kau tahu betapa pedulinya aku terhadapmu…

Cinta,

dalam sujudku pada-Nyaku titipkan doa dan pintaku…..

semoga kau senantiasa dalam penjagaan-Nya ketika penjagaanku tak sampai padamu

semoga kau selalu dikasihi dan disayangi -Nya ketika kasih dan sayangku tak mampu melampaui dimana kau berada saat ini.

Ku pinta pada-Nya agar Cinta-Nya selalu ada untukmu, ketika aku tak sanggup lagi mencintai

Ku tegarkan, segala kerapuhan, kan ku indahkan segala kesedihan…

bahagia mu adalah doa dan harapku….

senyumu, menjadi suatu cita – cita dimana aku bisa merasakannya itu tulus hanya untuku…

Semoga kan selalu baik adanya , meskipun jalan ini tak sempurna….

ucap terakhirku, ku harap kan terbaca jelas di mata dan hatimu…

aku mengerti….,

aku di sini, dan aku mencintaimu apapun adanya kau dengan segala kurangmu…

dan biarlah………,

biarlakanlah tulusku…yang mencintaimu



Semiotika #waktu

Jika tahu embun datang saat pagi, mengapa kamu tidak pergi ke halaman. Ia hanya singgah sebentar. Dan takada janji untuk kembali.
Pagi adalah kabar terbaik untukmu. Ia membawa kesejukan, bukan janji.
Dalam semiotika waktu, pagi adalah salah satu tanda eksistensi waktu.Saat ia digantikan siang,kita jadi tahu telah menggunakan waktu #waktu
Pagi memang akan datang lagi esok, tapi pagi esok tdk menggunakan waktu yg sama dgn pagi sekarang. Takada waktu yg kembali #waktu
Sebab waktu tdk berulang, tahun pun tdk bisa diulang. Tdk ada tahun baru. Tdk ada ulang tahunmu. Yg berulang adalah tanda-tanda #waktu
Tanda waktu yg berulang a.l putaran jarum arlojimu & kalender. Jadi, putaran jam & penggantian tahun adalah putara/penggantian tanda #waktu
Sebab itu, perayaan ultah & tahun baru sesungguhnya adalah ilusi. Di alam fana, waktu & kamu juga fana. Ia takterbarukan #waktu
Sebab itu, kebaruan pun jadi ilusi juga.Lihatlah, bukankah kita hanya brada dlm tanda2 yg berulang dlm interval waktu yg kian sedikit #waktu
Tuhan bersumpah demi waktu, tdk lain demi sesuatu yg akan habis, yg takbisa diulang. Bersama waktu, kt melangkah ke arah pulang #waktu
Di dlm waktu yg fana, kita mengembara. Dengan begitu, pengembaraan taklain adalah perjalanan utk kembali, yakni pulang pd ketiadaan #waktu
Problema kita adalah kesadaran bhw kita fana,tapi bersamaan dgn itu kita merasa tdk akan mati. Ini adalh tanda bhw dunia adalah ilusi #waktu
SHRYL


          

WAKTU MUSTAJAB DO’A



Salah satu yang dapat membuat do’a kita lekas terkabul adalah melaksanakannya pada waktu-waktu mustajab atau waktu istimewa yang Allah Swt janjikan akan terkabulnya do’a. Berdo’a pada waktu-waktu ijabah adalah sunnah karena telah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Waktu-waktu tersebut sebagai berikut:
1.    Hari Jumat
Dalam sepekan Allah Swt memberikan kita hari istimewa untuk memperbanyak do’a yaitu hari Jumat. Jum’at disebut juga sayidul ayyam, ibu dari hari-hari. Keistimewaan hari Jum’at ini terdapat dalam hadits Rasulullah Saw,
Abu Qasim Ra bercerita, Rasulullah Saw bersabda,  “Sesungguhnya pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat),” (HR. Bukhari dan Muslim).
Alangkah istimewanya waktu pengabulan do’a ini sehingga Rasulullah Saw mengisyaratkan bahwa masanya tidak lama. Isyarat ini memotivasi kita untuk tidak berhenti berdo’a dan berharap pada hari Jum’at. Orang yang motivasinya besar pada do’anya, ia akan memanfaatkan hari Jum’at untuk memperbanyak do’a. Setiap pekan kita bertemu dengan hari Jum’at.
2.    Ketika Turun Hujan
Indonesia adalah negara yang memiliki dua musim yaitu,musim panas dan hujan. Dua musim ini adalah keberuntungan bagi kita. Dalam 6 bulan kita akan terus mendapatkan musim hujan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah Saw sebagai waktu dikabulkannya do’a. Rasulullah Saw bersabda,
Sahl bin a’ad Ra berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Dua do’a yang tidak pernah ditolak do’a, yaitu ketika waktu adzan dan doa ketika waktu hujan,” (HR. Hakim dan Adz-Dzahabi).
Banyak orang-orang yang justru mengeluh karena basah, jemuran belum kering, becek, dan berbagai hal lainnya ketika hujan turun. Keutamaan berdo’a pada saat hujan ini tentu membuat kita bersemangat dan berhusnudzhan bahwa setiap hujan turun, ada kebaikan di dalamnya. Imam Nawawi berkata bahwa doa pada waktu hujan tidak ditolak kerana pada saat itu sedang turun rahmat.
3.    Setelah Shalat Fardhu
Tidak sedikit di antara kita yang kesibukan dalam hidupnya menyita waktunya. Bahkan waktu shalatpun sudah sangat sedikit diluangkan. Akibatnya setelah shalat jarang sekali ada waktu luang untuk berdo’a. Tidak jarang di antara kita yang dibisiki oleh rekan “Cepetan ya shalatnya!” Padahal shalat itu ibadah yang cepat, tapi banyak yang tidak sabar dan ingin mempercepat shalat. Rasulullah Saw bersabda,
Abi Umamah Ra bercerita, “Telah ditanyai Rasulullah Saw, “Kapankah do’a didengar (dimustajabkan) oleh Allah?” Rasul menjawab, “Do’a yang dilakukan di tengah malam dan setelah selesai melaksanakan sholat fardhu lima waktu,” (HR. Imam Turmidzi).
Allah Swt memberikan kita kesempatan berdo’a setiap hari minimal lima kali dalam waktu yang utama yaitu setelah shalat fardu lima waktu. Pada saat itulah kita selayaknya menyediakan waktu untuk menyampaikan segala keinginan atau cita-cita kita kepada Allah Swt.
4.    Antara Adzan dan Iqamah
Waktu mustajab do’a lainnya adalah pada saat antara adzan dan iqamah. Kesempatan kita berdo’a pada waktu mustajab ini memang sangat sempit. Oleh sebab itu, berbahagialah orang-orang yang sudah siap shalat sejak adzan berkumandang. Mereka mendapatkan kesempatan yang luang untuk berdo’a sebelum iqamah dikumandangkan. Rasulullah Saw bersabda,
Dari Anas bin Malik Ra, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad).
5.    Sepertiga Malam
Kesempatan kita memanjatkan do’a yang dijanjikan ijabah oleh Allah Swt adalah pada sepertiga malam. Waktu ini setara dengan pukul 2.30 Wib. Kesempatan untuk berdo’a pada sepertiga malam hanya bisa diraih oleh orang-orang yang rajin melaksanakan tahajjud. Rasulullah Saw bersabda,
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’,” (HR. Bukhari).
Pada malam itu setiap keinginan akan dikabulkan oleh Allah Swt dan setiap orang yang memohon ampun akan diampuni.
6.    Saat Dalam Perjalanan
Setiap orang pasti sering bepergian ke luar kota, atau ke luar negeri. Pada waktu-waktu inilah do’anya ijabah. Rasulullah Saw bersabda,
Dari Abu Hurairah Ra, Nabi Saw bersabda, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud).
Berbahagialah para karyawan yang selalu diberi kesempatan bekerja ke berbagai kota, do’anya mustajab.
7.    Saat Khatam Al Quran
Al Quran adalah firman Allah Swt yang diturunkan untuk manusia. Dengan membacanya berarti kita sedang berdzikir. Allah Swt berfirman,
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir[35]:29-30).
Pada akhir Al Quran terdapat do’a khatam Al Quran. Do’a ini merangkum kebaikan-kebaikan yang diinginkan manusia dalam hidupnya baik di dunia maupun di akhirat. Selain dibaca ketika mengkhatamkan Al Quran, do’a ini bisa dibaca pada kesempatan lain.
8.    Ketika Sujud dalam Shalat
Setiap hari kita melaksanakan shalat wajib sebanyak 17 rakaat. Pada setiap rakaat kita melasanakan sujud sebanyak dua kali. Berarti dalam sehari kita minimal melaksanakan sujud sebanyak 34 kali. Dalam setiap sujud ini Rasulullah Saw mencontohkan untuk berdo’a pada saat sujud. Dalam sebuah hadits disebutkan,
Dari Amr bin Ibnu Abasah mendengar Rasulullah Saw bersabda,“Tempat yang paling mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia dalam sujudnya dan jika ia bangun melaksanakan shalat pada sepertiga malam yang akhir. Karena itu, jika kamu mampu menjadi orang yang berdzikir kepada Allah pada saat itu maka jadilah.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, dan Al-Albani).
Sujud dalam shalat adalah waktu terdekat antara hamba dan Allah Swt sebagai pencipta. Dalam sujud, kita dilarang membaca bacaan selain bacaan shalat. Oleh sebab itu, pembacaan do’a cukup dilakukan dalam hati saja, tidak perlu dibacakan dengan nyaring.
9.    Ketika Berpuasa
Waktu ijabah do’a ketika puasa ada pada momen berbuka puasa. Saat adzhan maghrib berkumandang sangat disarankan untuk berdo’a. Rasulullah Saw bersabda,
Abdullah bin Amr Ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang berpuasa ketika berdo’a dalam berbuka, do’anya tidak tertolak,”  (Ibnu Majah Ra).
Banyak di antara kita yang berpuasa tapi selalu tergesa-gesa kala berbuka puasa karena lapar yang menyerang. Padahal kita berbuka tidak lebih dari sepiring nasi dan beberapa gelas air. Tubuh kitapun tidak akan terlalu banyak menampung makanan. Waktu untuk makan pun sebetulnya sangat panjang. Daripada sibuk memenuhi perut dengan makanan, lebih baik kita menyempatkan diri untuk memanjatkan do’a kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang sering melaksanakan shaum sunnah karena mereka mendapat kesempatan lebih banyak untuk menikmati waktu mustajab do’a.
10. Saat Lailatul Qadr
Lailatul Qadr adalah waktu diturunkannya Al Quran pertama kali. Allah Swt berfirman dalam Al Quran
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr[97]:1-5).
Pada malam ini Allah Swt menurunkan malaikat jibril dan malaikat-malaikat lain untuk menyelesaikan urusan manusia. Salah satu urusan itu adalah do’a-do’a kita. Lailatul qadr hanya terjadi sekali dalam bulan Ramadhan. Kemuliaan malam ini hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pada malam ini dianjurkan memperbanyak ibadah termasuk memperbanyak do’a.  Rasulullah Swt bersabda,
Aisyah Ra bercerita, “Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau bersabda: Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni  (Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku)” (HR. Tirmidzi).
Lailatul qadr jatuh pada malam-malam ganjil pada bulan Ramadhan. Di Indonesia, tanggal 17 Ramadhan dipercayai sebagai waktu turunnya Al Quran. Penentuan tanggal ini adalah keputusan kementrian Agama. Apalagi Rasulullah Saw menyebutkan bahwa lailatul qadrterjadi pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadhan. Tentu tanggal 17 belum memasuki 10 malam terakhir. Oleh sebab itu, keyakinan bahwa Al Quran diturunkan pada 17 Ramadhan bukan berdasarkan nash yang kuat.
Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil pada 10 malam terakhir Ramadhan. Seperti halnya sebuah sebuah kereta api yang melintas, ia hanya akan berhenti di stasiun yang sudah disiapkan. Kereta api tidak dapat berhenti di sembarang stasiun. Bergitupun laiatul qadr, dia akan diterima oleh orang yang siap secara ruhiyah untuk menerimanya. Orang yang mempersiapkan diri sejak awal Ramadhan tentu lebih siap menerima lailatul qadrketimbang orang yang sibuk pada malam-malam ganjil.



18 Des 2013

Aku merindukanMu...




Aku termenung mengingat ENGKAU...
Dan tak bisa ku tahan jatuh air mataku...
Aku terbuai dengan keindahanMU...
Seakan hatiku ada bersamaMU...

Begitu besar perasaan hatiku...
Hingga tak mampu untuk aku ungkapkan...
Begitu dalam rasa rindu padaMU...
Aku menangis dengan KERINDUANKU...

Sedih hatiku ingin bertemu...
Sedihnhatiku mengingatMU...
Gelisah hidupku ingin memujaMU...
Gelisah hidupku karenaMU...

Aku merindukanMU ya ALLAH...
Hati menangis setiap waktu...
Aku merindukanMU ya ALLAH...
Seluruh hidupku memujaMU ya ALLAH...

Aku tak mampu untuk menggapaiMU...
Namun ku yakin ALLAH Engkau Maha Tahu...
Ya ALLAH dengarlah doaku...
Sepenuh hati AKU MERINDUKANMU...

Perkenankanlah Aku Mencintai-MU Semampuku...





Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustaz kuresapi…
Tentang cinta para nabi.
Tentang kasih para sahabat.
Tentang mahabbah para sufi.
Tentang kerinduan para syuhada.
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam.
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…


Tapi Ya Rabbi,
Berbilang detik, menit, jam, hari,bulan dan kemudian tahun berlalu…
Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu…
Aku makin merasakan gelisahku membadai…
Dalam cita yang mengawang.
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi…
Hingga aku terhempas dalam jurang
Dan kegelapan…

Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun berlalu…
Aku mencuba merangkak, menggapai permukaan bumi
dan menegakkan jiwaku kembali.
Menatap, memohon dan menghibaMu...

Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii,
Perkenankanlah aku mencintaiMu, Semampuku

Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu Sebolehku
Dengan segala kelemahanku.

Ya Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al Musthafa.
Kerana itu izinkan aku mencintaiMu
Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku.

Ya Rabbii,
Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu Bakar,
yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga.
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separuh harta demi jihad.
Atau Uthman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dinMu.
Izinkan aku mencintaiMu, melalui seringgit-dua yang terulur
pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,
pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di tepi jambatan.
Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan.

Ya Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan khusyuknya solat salah seorang shahabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh menujah di kakinya.
Kerana itu Ya Allah,
perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu,
dalam solat yang cuba kudirikan terbata-bata,
meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Ya Rabbii,
Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib,
yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu.
Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rakaat lailku.
Dalam satu dua sunnah nafilahMu.
Dalam desah nafas kepasrahan tidurku.

Yaa Maha Rahmaan,
Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah,
yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam.
Perkenankanlah aku mencintaiMu,
melalui selembar dua lembar tilawah harianku.
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa Maha Rahiim,
Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah,
yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DinMu.
Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu.
Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwahMu.
Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Kariim,
Aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya,
bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,
dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya.
Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya.
Izinkan aku mencintaiMu dengan mencintai keluargaku,
dengan mencintai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta.

Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii
Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku.
Agar cinta itu mengalun dalam jiwa.
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

(tertatih meniti cinta dalam 26 tahun waktu yang Kau berikan...)

Ajari Aku Lebih Bersabar Lagi Ya Allah..

Ajari Aku Bersabar Ya Allah..
Melihat kebahagiaan berpasang-pasang insan aku terenyuh.
Mendengar kabar gembira mereka hatiku bersorak.
Menyaksikan rencana baik mereka dalam merenda ikatan suci aku bertepuk tangan.
Sungguh bahagia menonton hari bersejarah sepasang insan-Mu…

Namun, tak urung hatiku ikut bimbang.
Satu tanya menyerbu, muncul dalam benak.
"Kapan aku mengalami hari bahagia itu?"

Aku ingin merasakan kebahagiaan mereka.
Aku ingin mengalami kebahagiaan seperti mereka.
Aku ingin tersenyum di samping seseorang yang akan menjadi pelindungku selama sisa usia.
Aku ingin menjalin ikatan suci itu.
Aku ingin bahagia bersama dirinya…

Dan dia, pernahkah dia memikirkan hal ini?
Yaa Rabb, pernahkah dia memikirkan tentang ini?
Atau dia sama bingungnya denganku?
Ku tahu akal manusia memang terbatas…

Tak bisa mengira dan menerka.
Tak mungkin menjangkau sesuatu yang hanya menjadi rahasia-Mu.
Hanya memungkinkan bagi kami untuk meminta petunjuk-Mu.
Aku yang di sini dan dia di sana, mudah saja bagi-Mu mempertautkan kami…

Maaf ya Allah, bukan aku mendesak-Mu untuk menyegerakan niat baik kami.
Bukan aku tak sabar ingin menjumpai hari bahagia itu.
Tentu saja aku paham, aku takkan bisa mempercepat sesuatu yang belum Engkau izinkan
Sebaliknya, aku takkan sanggup menunda-nunda sesuatu yang telah Engkau tetapkan…

Hanya saja kini aku tengah dibakar cemburu.
Cemburu menyaksikan mereka bersatu, sementara aku tetap sendiri dalam penantian.
Ya Allah, rasanya bercampur aduk.
Ada bahagia dan pedih bercampur baur…

Tapi aku tak ingin mengasihani diri.
Aku yakin bila masanya tiba, Engkau akan mempertemukan kami…

Ya Allah... didiklah kami agar menjadi pribadi yang lebih baik hingga kami memang pantas untuk disandingkan.
Ajarilahlah kami agar lebih siap menata hidup dalam ikatan suci-Mu.
Berikan rahmat-Mu pada kami agar kami bisa mengecap kebahagiaan yang Engkau anugerahkan.
Jadikan kami hamba-hamba yang bersabar dan bersyukur dalam menerima ketetapan-Mu.
Genggam hati kami agar tak pernah putus asa sedikit pun dalam menanti keputusan-Mu…

Aamiiin ya rabbal alamin….


17 Des 2013

Amalan yang paling dicintai oleh Allah.

Amalan yang paling dicintai oleh Allah.




عن ابن مسعود t قال: سألت رسول الله r أيُّ العمل أحبُّ إلى الله. قال: «الصلاة على وقتها». قلت: ثم أيٌّ. قال: «بر 
الوالدين». قلت: ثم أي. قال: «الجهاد في سبيل الله» [رواه البخاري ومسلم].



Dari Ibnu Mas'ud semoga Allah meridhainya, dia berkata: "Saya pernah bertanya kepada Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling di cintai oleh Allah? Maka beliau bersabda: "Shalat tepat waktu", kemudian apa lagi? Tanya saya. Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua". Terus apa lagi? Tanya saya sekali lagi. Beliau berkata: "Jihad di jalan Allah".  HR Bukhari dan Muslim. 

Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan dalam hadits ini tentang amalan-amalan yang paling di cintai oleh Allah Azza wa jalla, dalam sabdanya beliau lebih mendahulukan shalat karena merupakan penghubung antara hamba dan Rabbnya, dan ke Islaman seseorang tidak akan sah tanpanya, dan juga, Allah tidak akan menerima amal apapun apabila tidak ada shalat, dan shalat adalah rukun yang paling penting setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Allah Ta'ala berfirman:

"Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".  (QS at-Taubah: 5).
       
Sesudah itu beliau menjadikan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah berbakti kepada kedua orang tua, yang mana amalan tersebut merupakan kewajiban yang harus di lakukan, dan kewajiban yang ada di antara halah dan mubah, bukan di antara haram dan makruh.
      
Dan hukuman bagi orang yang melalaikannya akan memperoleh hukuman yang besar, dan perbuatan yang paling jahat, karena begitu agungnya hak kedua orang tua, sehingga Allah menggandengkannya dengan tauhid dan beribadah semata hanya kepadaNya dengan hak mereka berdua. Dan Allah Ta'ala juga memperingatkan dari amalan yang paling ringan yang tidak boleh di lakukan kepada kedua orang tua, hal itu sebagaimana firmanNya:

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".  (QS al-Israa': 23-24).
       
Kemudian yang ketiga adalah berjihad dijalan Allah, jihad adalah perkara satu perkara yang disyari'atkan untuk bisa menegakkan agama, meninggikan kalimat Alllah serta menolong agamaNya. kalau seandainya tidak ada jihad maka tidak ada agama.  Adapun jihad itu mempunyai tiga tingkatan:

  • Yang pertama: Berjihad atas diri sendiri untuk menerima kalam Allah Azza wa jalla, dengan mengamalkannya, dan berjalan di atas petunjuk Rasulallah dan mengikuti beliau.
  • Kedua: Berjihad melawan setan yang ada pada dirinya sendiri, yaitu denganmengikis semua yang ada pada hatinya dari kerancuan dan keragu-raguan yang datang menghantam agama dan imannya.
  • Yang ketiga: Berjihad melawan musuh-musuh agama Allah Ta'ala dengan hati, lisan, tulisan, harta, dan pedang, sebagaimana firman Allah ta'ala:


"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah". (QS al Baqarah:193).

Dan juga firmanNya:

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong". (QS al-Hajj: 78). 
      
Dan masuk pula dalam masalah ini adalah berjihad kepada orang yang enggan beramar ma'ruf dan nahi munkar sesuai dengan ketiga tingkatan di atas