14 Jan 2014

Afwan Tidak Ada Selamat Ultah



Banyak yang menganggap diantara bentuk perhatian yang kita ungkapkan ke orang lain adalah dengan memberi ucapan selamat di hari ulang tahunnya. Namun, sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak mudah untuk mengikuti sesuatu kecuali telah kita kaji dasar hukum pandangan syariat terkait perbuatan atau amalan tersebut. Demikian juga berkaitan dengan masalah perayaan ulang tahun.
Sekilas Sejarah Ulang Tahun
Dalam budaya pagan diyakini roh-roh jahat mengunjungi orang – orang pada hari ulang tahun mereka. Untuk melindungi orang yang memiliki ulang tahun dari pengaruh jahat, orang-orang diundang untuk mengelilingi dia dan berpesta. Membuat banyak suara untuk menakut-nakuti roh-roh jahat. Pada waktu itu tidak ada tradisi membawa hadiah dan tamu menghadiri pesta ulang tahun akan membawa keinginan yang baik bagi orang ulang tahun. Namun, jika tamu membawa hadiah itu dianggap sebagai pertanda baik bagi orang kehormatan. Kemudian, bunga menjadi cukup populer sebagai hadiah Ulang Tahun.
Beberapa tradisi dan simbol-simbol ulang tahun yang populer yang kita lihat sekarang ini berasal ratusan tahun yang lalu. Tradisi lilin pada kue ulang tahun dihubungkan dengan Yunani awal, yang menggunakan tempat lilin menyala pada kue untuk membuat mereka bersinar seperti bulan. Dahulu, Yunani membawa kue ke kuil Artemis-Dewi Bulan. Beberapa ahli mengatakan bahwa lilin yang ditempatkan pada kue karena orang percaya bahwa asap dari lilin yang membawa keinginan mereka serta doa kepada Dewa-dewa yang tinggal di langit. Yang lain percaya bahwa adat asli di Jerman di mana orang dulu menempatkan lilin besar di tengah kue untuk melambangkan ‘cahaya kehidupan’.

Sekitar 4.000 tahun yang lalu Raja Firaun merayakan ulang tahunnya dengan memberikan suatu hari raya bagi pengikut istananya. “Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya.” (Perjanjian Lama, Kejadian 40 : 20) Sementara itu, Bangsa Romawi merayakan ulang tahun secara penuh antusias dengan pesta yang hedonistik dan hadiah yang berlimpah. Pada saat agama nasrani lahir, ulang tahun dijadikan kebudayaan orang nasrani. Perayaan Ulang tahun yang paling terkenal dalam sejarah adalah Yesus Kristus. Selama hampir 2000 tahun sejak kelahiran Yesus di Betlehem, orang Kristen telah menghormatinya sebagai Natal.
Pada zaman ini, memperingati ulang tahun seseorang biasanya dirayakan dengan mengadakan pesta ulang tahun dengan keluarga atau teman. Hadiahsering diberikan pada orang yang merayakan ulang tahun. Pada saat seseorang ulang tahun, sudah menjadi kebiasaan untuk memperlakukan seseorang secara istimewa pada hari ulangtahunnya. Seringkali orang menempatkan lilin pada kue ulang tahun dan berdo’a (silent wish) sebelum meniup lilin. Hal ini diyakini bahwa meniup semua lilin dalam satu nafas berarti do’a dan keinginan tersebut akan terwujud dan akan menikmati keberuntungan di tahun mendatang. Beberapa juga menuliskan nama sebelum mengiris kue untuk membawa keberuntungan.

Perayaan Ulang Tahun dalam Islam
Di masyarakat sekarang, banyak kaum muslimin yang juga turut ikut merayakan hari ulang tahun, apakah yang berkaitan dengan hari ulang tahun individu atau instansi. Dalam tinjauan syariat, ada beberapa kemungkinan terkait dengan perayaan ulang tahun ini.
Kemungkinan pertama, perayaan tersebut dimaksudkan dalam rangka ibadah. Misalnya dimaksudkan sebagai ritualisasi rasa syukur, atau misalnya dengan acara tertentu yang di dalam ada doa-doa atau bacaan dzikir-dzikir tertentu. Atau juga dengan ritual seperti mandi kembang 7 rupa ataupun mandi dengan air biasa namun dengan keyakinan hal tersebut sebagai pembersih dosa-dosa yang telah lalu. Jika demikian maka perayaan ini masuk dalam pembicaraan masalah bid’ah. Karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersihan dosa), adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena merupakan hak paten Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kemungkinan pertama ini merupakan bentuk yang dilarang dalam agama, karena Rasul kita Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)

Disamping itu orang yang membuat-buat ritual ibadah baru, bukan hanya tertolak amalannya, namun ia juga mendapat dosa, karena perbuatan tersebut dicela oleh Allah. Sebagaimana hadits, “Akan datang ke (telaga)ku orang-orang yang kukenal dan mereka mengenaliku, namun kemudian mereka terhalang dariku”. Akupun berkata, “Mereka adalah bagian dariku!”. Dijawab,“Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelah engkau (meninggal dunia)”(HR. Bukhari dan Muslim)

Kemungkinan kedua, perayaan ulang tahun ini dimaksudkan tidak dalam rangka ibadah, melainkan hanya tradisi, kebiasaan, adat atau mungkin sekedar have fun. Bila demikian, hal ini mengandung dua sisi larangan.
Yang pertama, menjadikan sebagai salah satu hari raya. Tindakan ini berarti suatu kelancangan terhadap Allah dan Rasulnya, dimana kita menetapkan sebagai ‘Ied (Hari Raya) dalam islam, padahal Allah dan Rasulnya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya. Perayaan dalam islam terbagi menjadi tiga perayaan saja, yang pertama Iedul Fitri yang kedua Iedul Adha dan yang terakhir setiap hari jum’at. Hal ini telah dijelaskan dalam beberapa hadits yang shahih.
Yang kedua, mengandung usur tasyabbuh (meniru niru). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ulang tahun ini selalu dirayakan oleh umat nasrani dan lainnya. Seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah lah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci (dalam hati) setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim).

Bagaimana Seharusnya Sikap Seorang Muslim
Sikap kita dalam menghadapi hari ulang tahun adalah tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.
Indahnya persaudaraan tidak diukur dengan siapa yang paling cepat mengucapkan selamat ulang tahun. Akan tetapi siapa yang paling tulus dan ikhlas mendoakan satu sama lain. Dan sebaik-baik doa seseorang kepada saudaranya seiman adalah doa tanpa sepengetahuan mereka. Rasulullohshollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk oleh Alloh. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Alloh, kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

Ya Allah Aku Ingin Menikah...


Wahai Rabb semesta alam, Berat kata pernikahan itu…
Ia berisi dan penuh makna, Ku ingin menikah atas perintahMu
Sungguh ku sangat khawatir tak mampu menjalankan perintahMu
Tak berpijak nafsu atau kepentinganku, tapi tuk harap ridhaMu

Gelegarnya kini seakan mengejar ku, Hati ku menari di atas sebuah bayangan…

Wahai Maha Penggerak hati,
Izinkanlah hati ini tunduk dalam biduk cinta keshalihan
Terpatri ikrar Ilahiyah dan tauhid
Jangan kau biarkan hatiku keras membatu karena nafsu
Terombang ambing atas cinta, harapan fana nan semu…


Dalam sebuah semangat abdi padaMu,
Kini hatiku gelisah tak menentu ya Rabb, Kini sepi itu banyak bertandang bertamu di hati ini
Air mata seolah tak terbendung karena khawatir akan fitnah, Takut akan kehancuran pribadiku karena godaan setan mengusik sepanjang waktu
Iman ini mulai rapuh dan ragu pada janjiMu…


Ku sadari ya Rabb, saat ini pernikahan adalah ujian terbesarku
Orientasi dan kecintaan pada diriMu kini kau uji

Fitnah hari ini begitu kejam,  Ada iman yang ingin tetap terjaga
Ada mata ingin tertunduk untuk bersuci, Ada hati yang ingin lebih serius berdzikir, Ada pikir lebih mendalam dalam bertafakur. lindungi dan mampukan diriku, untuk lolos ujianMu…

Jangan gagalkan aku memperoleh ridhaMu ya Rabb, Aku tak mau menghadapMu dalam sendiri
Bukankah sebelum menggenapkan iman, Sebelumnya iman akan tetap separuh
Tak hanya jiwa namun raga ini pun mengabulkan inginnya
Kusadari begitu banyak pejuang yang gagal dalam ujian ini
Terbelenggu oleh duniawi dan kebahagiaan sesaat, Terjebak oleh nafsu dan romantika keruh
Melepaskan perjuangan hingga hilang hanyut dalam kenistaan cinta yang fana…


Banyak cinta yang datang menghampiri dan aku resah ya Rabb
Ketika itu tak lahir dari syariatMu

Ada yang ingin terselamatkan, Ada yang hendak membangun kuatnya jiwa
Dan ada jalan surga yang sedang terjejaki, Bersama sunnah rasulMu
cahaya indah pun bertumpu di dada ini…

Bismillah … kutaruhkan semua diri ini
Hanya dalam kerangka iman dan Islam, Bukan untukku tapi hanya untukMu

Ya Rabb, hanya padaMu aku berkesah
Karena hanya padaMu aku berlindung dan memohon

Berilah aku kesempatan itu, Dekatkan aku pada waktu hikmah itu…

Tunjukilah jalan yang lurus dan benar ya Rabb
Jalan yang kau ridhai bukan jalan yang kau celakakan

Mampukan aku memenuhi perintahMu untuk menikah hanya karenaMu
Hindarkan dari kehancuran dan kehinaan
Kokohkan niat untuk melangkah dalam kesucian
Luluskan dalam menghadapi ujianMu…


Demi Allah aku menikah…
Laa illaha illallah Muhammadarrasulullah…




Doa Memohon Ridho Di Dalam Hati

Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan sebuah doa sangat panjang kepada sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ’anhu. Lalu Zaid radhiyallahu ’anhu diperintahkan oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam untuk membacanya setiap hari, bahkan diharuskan kepadanya untuk menyuruh keluarganya membaca pula. Doa ini sangat panjang, namun ada bagian sangat penting dari doa tersebut yang berkaitan dengan sikap seorang beriman menghadapi berbagai realitas dunia, baik yang menyenangkan maupun yang terasa pahit. Sebab hidup kita di dunia senantiasa diwarnai oleh dinamika yang berubah-ubah. Kadang kita diberi senang, kadang mengalami derita. Kadang sehat kadang sakit. Kadang menang kadang kalah. Kadang lapang, kadang sempit. Ada perjumpaan, ada perpisahan. Ada kelahiran, ada kematian. Itulah dunia. Semua serba fana, tidak ada yang lestari.
Seorang yang beriman dikagumi oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Beliau sedemikian kagum akan karakter mu’min sehingga pernah suatu ketika beliau mengutarakan takjub akan fenomena orang beriman.

“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman! Sesungguhnya semua urusannya baik. Dan yang demikian tidak dapat dirasakan oleh siapapun selain orang beriman. Jika ia memperoleh kebahagiaan, maka ia bersyukur. Bersyukur itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa mudharat, maka ia bersabar. Dan bersabar itu baik baginya.” (HR Muslim 5318)

Saudaraku, berdasarkan hadits di atas berarti perjalanan hidup seorang mu’min adalah suatu rentetan penyesuaian sikap terhadap realitas yang Allah taqdirkan atas dirinya. Bila ia mengalami suatu hal yang menyenangkan, kemenangan, memperoleh karunia, nikmat, anugerah atau rezeki, maka pandai-pandailah ia mensyukurinya. Sebaliknya, bila ia ditimpa mudharat, kekalahan, duka, lara, nestapa atau kehilangan sesuatu atau seseorang, maka hendaklah ia kuat-kuat menyabarkan dirinya. Jadi inilah hakikat hidup seorang mu’min. Nah, agar kita memiliki kemampuan untuk senantiasa istiqomah dalam bersyukur kala senang dan bersabar kala sedih, doa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang diajarkan kepada sahabat Zaid radhiyallahu ’anhu mungkin dapat membantu kita. Doanya adalah sebabgai berikut:

“Ya Allah, aku mohon ridho (dalam hatiku) sesudah keputusanMu, kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajahMu dan kerinduan berjumpa denganMu.” (HR Ahmad 20678)

Pertama, kita memohon kepada Allah agar sikap ridho selalu menghiasi hati kita. Ridho di sini maksudnya menghadapi segala keputusan Allah yang telah ditaqdirkan atas diri kita. Biasanya manusia mudah untuk ridho terhadap taqdir Allah yang menyenangkan. Mana ada orang menyesal ketika Allah kasih dia rezeki? Tapi jangan salah, saudaraku. Maksud ridho di sini ialah agar keridhoan itu tampil dalam bentuk pandai bersyukur ketika nikmat menyapa kita. Sebab tidak sedikit manusia yang ketika memperoleh suatu karunia lalu lupa mengkaitkan dengan taqdir Allah. Ia lupa untuk selalu menyadari bahwa tidak ada satupun kenikmatan yang sampai kepada manusia kecuali atas izin Allah. Nikmat mampir bukan karena kehebatan seseorang. Betapapun hebatnya seseorang, namun nikmat tidak akan bisa ia peroleh jika Allah tidak izinkan nikmat itu sampai kepada dirinya. Ia bisa memperoleh nikmat semata-mata karena Allah akhirnya mengizinkan nikmat itu sampai kepada dirinya.

Orang biasanya sulit ridho bila menyangkut taqdir Allah yang sifatnya pahit atau tidak menyenangkan. Oleh karenanya doa di atas juga kita baca saat ditimpa kekalahan, duka, lara, nestapa, mudharat agar keridhoan itu tampil dalam bentuk kemampuan untuk bersikap sabar menghadapi apapun yang Allah taqdirkan. Dan jika itu menyangkut suatu hal yang menyedihkan alias musibah jangan kita jadikan Allah sebagai –maaf- ”kambing hitam”nya. Salah satu bentuk sabar ialah seseorang sanggup mengambil pelajaran dari setiap musibah yang menimpa dirinya. Ia mendahulukan untuk menyalahkan dirinya sendiri daripada mencari fihak lain sebagai sebab musibah tersebut. Lalu ia selanjutnya mengkoreksi diri agar tidak jatuh kepada kekeliruan langkah seperti yang ia telah lakukan sebelumnya.

”Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS An-Nisa ayat 79)

Kedua, lalu sisa doanya menyangkut perkara di luar dunia. Coba perhatikan:

“Ya Allah, aku mohon ridho (dalam hatiku) sesudah keputusanMu, kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajahMu dan kerinduan berjumpa denganMu.” (HR Ahmad 20678)
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengarahkan Zaid radhiyallahu ’anhu untuk memohon kepada Allah ”…kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajah Allah dan kerinduan berjumpa dengan Allah.” Mengapa demikian? Karena, saudaraku, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin mengingatkan Zaid radhiyallahu ’anhu dan kita semua untuk memandang bahwa apapun yang kita alami di dunia ini –senang maupun sedih- pada hakikatnya adalah perkara kecil dan tidak berarti jika dibandingkan dengan mengingat Allah Yang Maha Besar, mengingat kematian, mengingat perjumpaan dengan Allah. Dan tidak ada kenikmatan yang lebih utama bagi penghuni surga selain memperoleh kesempatan memandang wajah Allah…!

“Bila penghuni surga telah masuk surga, maka Allah berfirman (kepada mereka): ”Apakah kalian ingin sesuatu untuk Kutambahkan? ” Maka mereka menjawab: ”Bukankah Engkau telah putihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah masukkan kami ke dalam surga? Dan selamatkan kami dari api neraka?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Maka disingkaplah Al-Hijab (tabir). Sehingga ahli surga tidak memperoleh sesuatu yang lebih mereka sukai daripada memandang wajah Rabb mereka Allah’Azza wa Jalla.” (HR Muslim 266)

Subhanallah…!! Penghuni surga memperoleh hak untuk memandang wajah Allah. Suatu kenikmatan yang mengalahkan segenap kenikmatan surga lainnya. Suatu kenikmatan yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai ”tambahan” alias bonus bagi ahli surga.

”Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS Yunus ayat 26)

Saudaraku, bagi seorang mu’min yang sibuk berjuang agar kelak di akhirat berhak memandang wajah Allah, tentulah segenap pengalaman hidup di dunia menjadi terasa kecil. Jika ia mendapat nikmat dia tidak akan lupa diri, karena tidak ada apa-apanya dibandingkan nikmat memandang wajah Allah yang ia idam-idamkan selalu. Jika tertimpa kesulitan ia akan bersabar dengan meyakini bahwa semoga kesabaran itu akan menyebabkan ia berhak memandang wajah Allah disamping diselamatkan dari api neraka. Dan tentulah di antara modal utama untuk berhak memandang wajah Allah ialah ia selalu sibuk memastikan bahwa apapun yang ia kerjakan di dunia ini adalah semata-mata demi memperoleh wajah Allah alias ikhlas dalam berbuat apapun. InsyaALlah.-
“Ya Allah, aku mohon ridho (dalam hatiku) sesudah keputusanMu, kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajahMu dan kerinduan berjumpa denganMu.” (akhdian)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ya Alloh, yang Maha Mendengar keluh kesah hamba, kudatang dengan penuh kehinaan dan duka lara, karena kebodohan hamba melakukan kesalahan, yang menyakiti hati hamba-Mu yang baik-baik, padahal kesalahan itu bukanlah dengan sengaja hamba lakukan.

Ya Alloh, yang Maha Menghilangkan kegundahan hamba, kudatang dengan luka yang kuperbuat sendiri, berilah kekuatan sabar dan kesembuhan segera kepada hamba, karena jika Engkau membiarkan hamba terus terluka, niscaya hamba akan menjadi orang yang celaka dan menderita.

Ya Alloh, yang Maha Lembut dan Penuh Kasih, tanamkan kasih sayang dan pengertian yang dalam di hati kami, agar senyum ikhlas menjadi pertanda maaf agar maaf menjadi pelipur lara dan penghapus kesalahan, agar kesalahan tidak terulang dan melahirkan keridloan agar ridlo menjadi pemadam amarah jiwa, dan penyesalan menjadi pertanda untuk lebih baik.

Tumbuh suburkan kasih sayang karena-Mu di hati kami, dalam membangun penghambaan yang penuh gairah, semangat ibadah dan amal solih yang hanya untuk-Mu.

Tiada keselamatan tanpa kemurahan dan rahmat-Mu, curahkan setetes cinta-Mu, meski kami bergelimang dosa karena kehinaan kami, karena kami yakin Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pemurah,

Ya Alloh, Pemilik keagungan dan kemuliaan,
peluklah kami dalam keagungan dan kemuliaan kasih sayang dan cinta-Mu, hingga kami selalu bersama sampai menuju pintu syurga-Mu, dalam kekekalan kebahagiaan abadi …

Aaamiin ya Alloh, aaamiin ya Robbana, aaamiin ya Mujiibassaailiin …

11 Jan 2014

Cinta Itu Anugerah Namun Mengapa Ada Cinta Buta

Assalamu'alaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh
Segala puji hanya bagi Allah yg telah menganugerahkan cinta pada setiap hamba-Nya. Shalawat dan salam selalu kita haturkan untuk Nabi kita Muhammad SAW. Dialah tauladan sempurna bagi seluruh umat pengikutnya.
Cinta, ya cinta kalimat ini sangat indah di dengar, namanya terukir dalam tulisan yang indah yang terangkai dalam sebuah makna. Setiap manusia pasti mengenal kata cinta, dia mempunyai berjuta arti dan makna. Apalagi kaum para remaja, mereka di masa pubernya pasti menikmati dan mengagungkan pasangannya dengan kalimat yg indah tentang cinta.
Dan cinta itu anugerah namun mengapa ada cinta buta. Padahal hakekatnya cinta itu membawa pada kebaikan dan kedamaian. Ya kita sering melihat dan mendengar ada orang bisa mengorbankan apa saja demi cintanya. Bahkan atas nama cinta orang bisa terjerumus dalam perbuatan dosa. Bahkan ada juga cinta yang membutakan hatinya, hingga membuatnya putus asa, sampai ada yg bunuh diri karena cinta.
Di sinilah pentingnya manusia menemukan makna cinta yg sebenarnya, agar dengan cintanya dia dapat merasakan keindahan, kebaikan dan kedamaian dalam cintanya. Karena cinta adalah anugerah yg terindah yang Allah berikan pada setiap hamba-Nya. Karena Allah sangat mencintai setiap hamba-Nya tanpa terkecuali, baik yg muslim ataupun non muslim. Allah tidak membeda-bedakan cinta- Nya karena semua hamba-Nya mendapatkan Cinta-Nya.
Ya dengan segala karunia dan anugerah-Nya. Dengan segala nikmat yg telah ia berikan, nikmat rezeki, nikmat umur, nikmat kesehatan, nikmat keluarga, nikmat iman dan sebagainya. Dan kita hamba-Nya tidak dapat menghitung segala nikmat yg sudah Allah berikan kepada kita.
Cinta bisa juga bermakna yang melayani, yang mengerakkan hatinya ke dalam pikirannya dan tindakannya. Bila cinta bersemayam di hati, maka hati akan melayani cintanya atau melayani untuk sesuatu yang di cintainya. Nah jika manusia dapat menemukan makna cintanya, maka dia akan mengenal yang memberi anugerah cinta kepadanya. Ya Dialah Allah Azza Wa Jalla yg telah memberikan anugerah cinta-Nya kepada kita hamba2-Nya.
Cinta yang bagaimana yang Allah inginkan pada setiap hamba-Nya. Mari kita sama-sama sebagai hamba-Nya menemukan cinta yang di inginkan-Nya. Dengan cara kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya, lebih mengenal Tuhan kita, dengan segala kebesaran dan ke- Agungan-Nya dalam nama-Nya yg Mulia (Asma ul Husna) dan dengan segala sifat2-Nya. Insya'Allah dengan kita lebih mengenal dan lebih mendekatkan diri dalam iman dan taqwa atau amalan ibadah kita kepada-Nya, maka kita akan menemukan makna cinta kita yg sebenarnya. Makna cinta pada diri kita dan makna cinta- Nya kepada kita hamba2-Nya.
Sebagai contoh; ketika Kita mengenal si fulan yg banyak di sukai atau di cinta oleh orang di sekelilingnya. Dia selalu membawa kebaikan dan kedamaian untuk orang2 di sekitarnya. Karena alasan ini kita mencoba untuk mengenal lebih dekat kepada si fulan, ingin mengenal sifat2nya dan cara hatinya melayani cintanya, sehingga orang2 di sekelilingnya mencintainya dan merasa damai bila bersamanya.
Itulah cinta, bila cinta mulai menguasai hati, maka hati akan melayani cintanya. Bila cintanya untuk mahluk, maka cintanya akan melayani untuk mahluk yg di cintainya. Bila cintanya utk dunia, maka cintanya akan melayani untuk dunianya dan sebagainya. Jadi cinta yang seperti apa yg paling sempurna untuk cinta kita? Ya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah cinta sejati yg harus kita kejar dan kita dapati. Agar kita tahu bagaimana seharusnya melayani cinta kita utk mahluk ciptaan-Nya, agar kita tahu bagaimana cara melayani cinta kita utk dunia. Dan yg paling penting agar kita tahu bagaimana cara melayani cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Agar jangan ada lagi cinta buta yang akan meyeret kita pada kegelisahan, kebodohan, nafsu dan nikmat dunia
Dan kita tahu cinta itu anugerah namun mengapa ada cinta buta? Ya itu di sebabkan karena cinta yg di selimuti oleh nafsu dan cinta dunia, hingga hatinya di butakan oleh keindahan, kenikmatan dunia dan nafsu serta godaan syetan yang terkutuk. Jadi hakekat cinta buta jawabannya ada di dalam keimanan kita dan ketaatan kita kepada ALLAH SWT.
Karena sesungguhnya Cinta Itu adalah anugerah yang harus selalu Kita Jaga. Dengan cara selalu mendekatkan diri dalam ketaatan kita kepada Allah dan selalu mentauladani akhlak Rasululllah saw.agar cinta yang terpatri dalam hati kita, itu akan mendatangkan kebaikan dan kedamaian untuk sesama dan untuk dunia dan akherat kita. Dan agar cinta yang bersemayam dalam jiwa tidak di butakan oleh nafsu, keindahan atau kenikmatan dunia serta godaan syetan yang menyesatkan.
Dan semoga tema judul ini mengenai cinta itu anugerah namun mengapa ada cinta buta akan menjadi renungan buat kita semua akan hakekat dari makna cinta. Cinta yang akan mendatangkan kebaikan dan kedamaian buat orang2 di sekeliling kita. Dan cinta yang akan menghantarkan pada ketaatan dan keredho'an-Nya (Allah Azza Wa Jalla). Aamiin Ya Robbal'alamin. Wassalam...

10 Jan 2014

Ketika Memaafkan Terlalu Berat

“Sesungguhnya lubang jarum takkan terlalu sempit bagi dua orang yg saling mencintai.
Adapun bumi takkan cukup luas bagi dua orang yang saling membenci.”
(Al-Khalil Ibn Ahmad)
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh..
Ada satu ucapan, dengan satu napas ‘tuk menuturkannya..
Maaf.
Setunggal kata, singkat dan sederhana. Namun ia menjadi sarat makna, sarat kekuatan dan kedahsyatan bagi hati yang tidak terlatih ‘tuk memberikannya dengan ikhlas. Ialah sebuah perjuangan yang begitu pahit dan meletihkan, ‘tuk sepenuhnya memberi ruang di hati ini, ‘tuk dengan tulus menghaturkan, “Iya, aku sudah memaafkanmu..”
Yuk.. Ikhlaskan.. ^_^Insha ALLAH beban akan terangkat..
Yuk.. Ikhlaskan.. ^_^
Insha ALLAH beban akan terangkat..
Saudaraku..
Di pertengahan malam ini.. Jari-jari ana merajutkan kata untuk antum, yang mungkin tengah tercekik hatinya, karena sakit hati yang demikian dalam, yang didermakan “manusia tak berperasaan”. Dengan tulisan ini, ana hendak mengingatkan saudaraku yang baik ini, yang mungkin tengah menyimpan luka lebar dan dalam, yang menulusup di dasar kalbu paling jauh, yang terus menyayati jiwa yang memilikinya.. Hingga hati yang terbakar itu berujar, “Sampai mati pun takkan kulupakan apa yang telah kaulakukan padaku!”
Akhiy.. Ukhtiy.. Mari kita sandarkan kepala ini sejenak.. Mari ber-istighfar, jika sempat rasa sakit hati menjelma menjadi dendam.. Jika sempat rasa tersakiti tersihir menjadi keengganan memaafkan.. Jika sempat, ego menguasai diri kita, mengambil alih kerja hati dan iman kita.. Sehingga secara tidak sadar kita mendongkrak derajat diri, sampai tega berharap agar penderitaan berbalik mendiami hidup orang yang menyakiti kita..
Astaghfirullaah.. Apatah kita.. Bila memandang diri terlalu agung, hingga tidak sanggup memberi maaf.. Tidak sanggup meniru ajaran Rasulullah yang mulia.. Tidak sanggup menuruti perintah ALLAH.. “Jadilah engkau pemaaf..” (Q.S. al-A’raaf: 199). Sementara kita, takkan sanggup menarik napas walau seteguk, jika ALLAH tidak mengampuni dosa-dosa kita..
Saudaraku yang baik..
Mari raba hati ini, elus dengan lembut sang pelabuhan iman.. Ingatkanlah ia, bahwa..
“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas, maka ALLAH memberinya maaf pada hari kesulitan.” (H.R. ath-Thabrani)
Sungguh ana mengerti, Akhiy.. Jika mungkin, melupakan sekaligus memaafkan kesalahan orang ialah usaha yang begitu berat ‘tuk kita pikul sendirian. Macam harus kita dorong gunung dan bukit bertimah dengan tangan kosong. Sungguh ana paham, Ukhtiy.. Jika memaafkan itu semakin terasa berat ketika luka yang ia ukir begitu mencekik dan menghanguskan kebersihan nurani kita..
Ana tau, (kadang) memaafkan itu sulit.. Lagi susah dan berat. Luka yang ia goreskan bahkan mengeras dan berlapis kerak tak tertembus.
Namun..
Ingatkah kita dengan kisah seorang sahabat yang masuk surga karena pekerjaannya setiap hari adalah memaafkan? Ingatkah kita pada sosok ibu, yang memaafkan setiap tangis kita ketika kita hanya bisa menendang-nendang dan merengek di buaian? Ingatkah kita pada kisah ketika Rasulullah menenangkan Jibril yang hendak membalikkan gunung, agar memaafkan orang-orang yang menyakiti beliau?
Ingatkah kita, akan kenyataan tak berbantah, ialah ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Memaafkan lagi Maha Mengampuni..? Lantas, beraninya kita mendambakan ampun dan maaf dari-Nya, bila kita sendiri enggan untuk mengamalkan kearifan memaafkan?
“… Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.
Apakah kamu tidak ingin ALLAH mengampunimu?
Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. an-Nuur: 22)
Yuk, Saudaraku.. Angkat dan buang beban yang terus mengekori kita, yang kian membendung hati ini dari kemaafan.. Cuci bersih hati ini, peraslah dengan kesadaran akan posisi kita sebagai hamba yang bergantung kepada-Nya. Aliri hati ini dengan kemaafan.. Basahi ia dengan penerimaan.. Bahwa selain Rasulullaah, manusia itu.. Tidaklah sempurna..
Izinkanlah rasa sakit dan disakiti itu menjadi penggugur dosa kita saja. Jangan jadikan ia sebagai benteng kearoganan yang menghalangi nur kemuliaan untuk menyinari kita..
Lalu tuturkanlah ucapan kasih sayang pada ia yang tengah menanti pemberian maaf kita.. Pada ia yang tengah menyesali perbuatannya yang menyakiti kita.. Katakanlah..
“… Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan ALLAH mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang..” (Q.S. Yusuf: 92)
 Itulah ucapan Nabi Yusuf ‘alayhi salam kepada saudaranya, ketika mereka meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat di masa lalu. Subhanallaah..
Saudaraku..
Sungguh, jika kita terus terjerembap pada kesukaran hati ‘tuk memberi maaf.. Jika kita terus mengasung diri dengan memelihara sakit hati akan perbuatan orang lain.. Jika kita terus mencerca, memenuhi rongga dada dengan amarah dan ketidakikhlasan memaklumi.. Ana kira hidup kita tidak lebih baik dari seekor semut yang senantiasa kelelahan menopang beban. Hidup kita takkan tenang, karena hati terus dipusingkan oleh ketidakikhlasan berkelanjutan.
Maka, jika kini hati ini masih terisi oleh keengganan memaafkan.. Jika kini kepingannya masih diretakkan oleh kebencian pada orang yang menyakiti kita.. Jika kini, ia tengah pelik dan tersandung-sandung oleh bayang-bayang perbuatan orang pada kita.. Pasrahkanlah pada-Nya, minta ALLAH yang langsung mengangkat beban ini. Minta ALLAH yang membimbing hati ini ‘tuk memaafkan.. Minta ALLAH ‘tuk mengajari hati ini tentang kearifan meleburkan dendam dan sakit hati.. Insha ALLAH, jika kita tulus meminta, ALLAH akan menolong kita.. Insha ALLAH.. Insha ALLAH..
Karena kemaafan adalah dendam terindah untuk ia yang menyakitimu. Kemaafan adalah akhlak termulia di antara segala reaksi terhadap perbuatan dosa orang lain terhadap kita.. Kemaafan adalah alternatif termanis untuk membentengi diri dari rasa sesak berkepanjangan.. Tiada manusia yang sempurna sehingga tak satu salah pun yang dibuatnya, melainkan Rasulullaah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam..
Karena kemaafan, adalah butiran berlian yang menerangi kalbu, yang mengangkat derajat diri dan iman yang dipeliharanya.. Insha ALLAH.. Insha ALLAH..
“Barang siapa senang  melihat bangunannya  dimuliakan, derajatnya ditingkatkan, maka hendaklah dia mengampuni  orang yang bersalah kepadanya, dan menyambung (menghubungi) orang yang pernah  memutuskan hubungannya dengan dia.” (H.R. al-Hakim)
Di sudut dingin kamar 
Ketika sore berpamit, 10/01/2014
jemmy dalam Derik-derik Mengingat-Nya
Untuk siapapun yang tengah membaca tulisan ana..
Ana memohon maaf atas salah-salah ana yang disengaja dan tidak disengaja, ya, Saudaraku.. :)
Semoga ALLAH pun mengampuni dosa-dosa kita.. Aamiin.. Aamiin..
Semoga bermanfaat.. :)

Kesabaran dalam Penantian

Ketika rahasia dihijrahkan menjadi kata benda
Ia menawarkan pilihan
Bersabar, atau memaksa menguaknya
Bersabar menanti kejutan indah di balik rahasia
Atau, terhempas sakitnya kecewa karena memaksa
Cinta
Sabar kini, jauh lebih bijaksana daripada tersiksa nantinya :)
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh..
Saudaraku, pernah jatuh cinta? ;) Atau merasakan kagum yang tak biasa pada seseorang? Atau paling tidak, memiliki harapan yang sempat terlabuhkan?
Ah, patutnya kita jawab tanya itu di hati kita masing-masing.
Namun kini, mari kita bicara. Untuk yang pernah merasakan cinta. Hati yang pernah merasakan sakitnya, hati yang kembali sadar bahwa cinta tak seharusnya ada sebelum hadiah ALLAH itu datang. Hadiah yang sarat dengan kejutan dan perhiasan kebahagiaan. Berupa suami, atau isteri. Atau pasangan sejati kita, till death do us part:)
Ketika kita (masih) sendiri, sementara di sepanjang hiruk-pikuk perjalanan waktu ada saja pasangan yang memamerkan kemesaraannya. Entah dalam bentuk kehalalan hubungan, atau kelaknatan tingkat gawat. Mungkin kadang rasanya berat, seperti kata teman ana, “Kok aku doang yang nggak pacaran? ><.” Atau kata teman ana yang lain, “Jangan-jangan aku jelekbanget ya, Fi? Nggak ada yang deketin ><.”
Hmm..
Ukhtiy.. Sendiri bukan berarti tidak cantik. :) Tak di-‘PDKT’-kan bukan berarti ‘nggak laku’. Melainkan itulah anggai penghormatan ikhwan pada akhwat yang menjaga diri. Inilah pilihan. Dan di balik pilihan yang baik, selalu ada ruang bagi kejutan tak terprediksi. Insya ALLAH..
Akhiy.. Sendirian bukan berarti tidak jantan. Berjenggot dan selalu menunduk bukan berarti kurang pergaulan. Justru itu menjadikanmu terhormat. Inilah pilihan. Dan di balik pilihan yang baik, selalu ada ruang bagi kejutan tak terprediksi. Insya ALLAH..
Hm, lalu mari kita geser sedikit topik kita.
Mungkin, ketika kita telah begitu kagum pada seseorang, ia ‘berpaling’, lalu mendidihkan kekecewaan di periuk hati ini. Atau mungkin, kita mendengar berita tak enak tentangnya, yang memangkas kriteria untuk sebuah kekaguman. Atau bahkan ia malah pacaran, sebuah hubungan yang sekuat tenaga kita tahan sampai masa NPSP (Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan) datang. Kekaguman yang sudah mendidih demikian hebat harus membeku di bawah derajat nol Fahrenheit.
Saudaraku, satu-satunya idola yang sempurna, hanya Rasulullaah. Maka tak perlu rasanya, kita mengagumi orang setinggi itu. Kita sendiri nanti yang kecewa. Kita dan ia sama-sama dhaif. Kita bisa saja berbuat salah, lalu mengapa ia tidak? Tak perlu kita menyibukkan diri ‘kecewa’ dengan akhlak idola yang tak lagi sesuai harapan. Lebih baik kita menjaga diri kita dulu, menguatkan diri kita dulu. Sambil terus berdoa, semoga bagi orang-orang yang dipenuhi ketidaksabaran ALLAH beri kekuatan, kelembutan dan gelombang cahaya paling manis bernama hidayah. Aamiin..
Lalu, jika mungkin pernah sebuah rasa hinggap di hati kita, apa ia harus dipertahankan? Atau harus dikenang sampai badan gemetaran? Entahlah, menurut ana jawabannya tak pasti. Karena dalam setiap jawaban, selalu ada ruang bagi pilihan.
Hanya dua hal yang berani ana sampaikan;
Pertama, ketika kita mengagumi seorang dalam kagum tingkat gawat, apa ia yang yang dikagumi kelak menjadi jodoh kita, Saudaraku? Entahlah. Itu rahasia, tak sepantasnya kita berusaha menguak duluan rahasia ALLAH. ALLAH yang memiliki rahasia itu, maka biarlah kelak Ia yang membukanya, pada masa dan tempat yang tak masuk dalam rekaan. Insya ALLAH. :)
Kedua, ketika kita terluka saat melihat orang yang kita kagumi melakukan hal yang tak pernah kita bayangkan, apa sang jodoh bisa terima, kita telah ‘berserah’ pada orang yang salah? Ah, entahlah. Itu bukan rahasia, karena di sana ia tengah menanti kita. Maka jangan kita rusak penantian itu dengan ketidaksabaran kita..
Saudaraku.. Mungkin, satu-dua di antara yang membaca tulisan ini sedang jatuh hati pada orang yang nasib kita dengannya masih kabur. Mungkin, sedang ada di antara pembaca yang sedang kecewa dan patah hati macam tersengat gerombolan lebah jantan. Mungkin, ada di antaranya yang sedang dekaaat sekali, dengan seseorang, tanpa tahu bahwa kedekatan itu adalah isyarat akan sebuah rasa yang telah berhinggap.
Mari kita nukil sekali lagi:
… Sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) ALLAH itu, pasti datang” (Q.S. al-‘Ankabuut: 5)
Jadi, walau kita memaksa dan menangis darah keadaan berubah saat ini juga, takkan ada yang berubah tanpa izin dari-Nya. ALLAH punya cara, punya rencana di tiap skenario kehidupan. Saat ini kita ingin ada yang mengisi hati dan hidup kita, mungkin itu bukan waktu dimana janji ALLAH telah berjawab. Sebab jika janji itu terjadi nanti, insya ALLAH, kita akan baik-baik saja..
Saudaraku, tulisan ana hadir untuk mengingatkan antum dan diri ana pribadi. Adalah sebuah kenyataan yang harus diingat sampai hadiah itu datang. Bahwa masa sendiri ini akan berakhir. Masa kita terluka karena sesaknya hidup sendiri, masa kita terhempas karena tidak ada yang menyediakan sandaran, insya ALLAH akan berakhir. Jika tidak hari ini, mungkin esok, mungkin setelah lulus kuliah, mungkin setelah bekerja. Atau jika tidak, mungkin kelak, di Firdaus, ALLAH penuhi janji yang sempat mengabur di penglihatan kita. Insya ALLAH.. :)
“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An Nuur : 26).
Lalu, jika kita sudah bersabar, InsyaALLAH, Ia tengah menyiapkan seseorang yang juga sabar menanti kita. Layaknya sebuah pecahan piala kaca yang terbungkus di etalase, menanti pecahan lain yang juga terbungkus etalase di seberang sana. Layaknya sepasang sepatu, yang tak terpisah, tapi terlihat berbeda. Pasangan yang bersatu karena berbeda, karena kesabaran menanti jemputan.
Mari sama-sama kita meraba hati, ucapkan padanya dengan lembut dan tulus,“Bersabarlah.. Sebentar lagi ia akan datang..” Benar, walau tampak fisik kita sendiri, tapi jauh di hati ini.. Kita dan ia telah menyatu dalam buhul yang telah ALLAH ikatkan sejak dulu. Kita dan ia telah menyatu lewat penantian dalam kesendirian. Lewat penantian dalam kesabaran.
Saudaraku.. Rahasia ALLAH selalu menawarkan pilihan. Dan di balik setiap pilihan, selalu ada ruang bagi konsekuensi. Maka semoga kita pandai memilih pilihan terbaik untuk segala jenis keletihan menanti jodoh; sabar. :) Aamiin..
Yuk, semangat!
Semoga bermanfaat :)