6 Apr 2015

Wisuda,pasca sarjanaku adalah awal. Bukan akhir!

 Serang Banten  hari itu, seakan menjelma menjadi kota bahagia. Senyum bahagia tersebar merekah, ucapan selamat dan bingkisan bunga ikut mengiringi, wajah-wajah bahagia terekam baik oleh lensa-lensa kamera. Para orang tua ada yang menitikkan air mata haru dan bahagia di ujung matanya, menyaksikan sang anak kini telah meraih sebuah gelar baru di belakang nama mereka, dalam hatinya mungkin terbesit, selesai juga perjuangannya mencari nafkah untuk membiayai pendidikan si anak.
Ya, Para pejuang ilmu yang telah bergelut kurang lebih empat hingga enam tahun,/2 thn untuk pasca sarjana kini mengenakan baju kebanggannya, toga. Sebagai symbol sebuah kelulusan dan keberhasilan. Meski aku tak di hadiri oleh orang yg ku sayangi tidak ikut serta di sana karena sebuah kegiatan yang mengharuskan dia gak bisa hadir namun dia bisa melihatnya dari foto-foto yang terpajang yg kukirim , betapa meriahnya hari itu. wajah-wajah yang cantik, bingkisan bunga yang indah, senyum orang tua mereka, hari wisuda memang menjadi hari kebahagiaan yang selalu dinanti oleh para mahasiswa.
Tak menyangka juga, ketika aku membuka pesan, ada sebuah pesan singkat yang menyadarkan dan membuat bibirku tersenyum cukup lama: Dear ukhti …Setiap akhir adalah awal permulaan yang baru.Selamat datang di dunia pasca kampus.Semoga ilmunya berkah,semakin Allah tambahkan pula jalan2 keluasan ilmu. Happy Gradution my lovely sista .Kau tahu,Allah menciptakanmu begitu istimewa. Selamat menikmati apa yang disebut “Indah pada Waktunya”.Semoga berkah segala perjuangan yang telah terlewati dan bersiap untuk perjuangan selanjutnya.Barakillah,semoga menjadi sarjana yang penuh manfaat. Terus berkarya!Terus ukir prestasimu.Sukses dunia akhirat… :)


Eh? Happy graduation..? aku.. sudah menjadi sarjana S2 sekarang?  ? hmm.. okay! Agak aneh memang, mendadak ada beberapa huruf yang ikut memanjangkan nama, tapi bagaimanapun itulah hasil dari perjuanganku 2 tahun kemarin. Agak terlambat memang, . Namun aku begitu bersyukur, bahwa aku bisa menyelesaikannya… di tengah perjalanan kuliahku yang terkadang terseok-seok. Seringkali di kala rasa kantuk yang begitu mendera, karena kuliah sambil mengajar/ guru di salah satu sekolah kejuruan di tanggerang  kupaksakan diriku di pagi hari untuk berkata, “Ayo cha Berangkat kuliah!” dan seringkali aku mencubit lenganku sendiri atau meminta teman mencubitku agar aku tidak tertidur di dalam kelas. Atau ketika musim ujian sementara sampai petang hari aku masih harus terus kuliah di saat aku kelelahan mengajar , dan ketika airmata ini berderai-derai, namun kutepuk lenganku sendiri sambil mengucapkan, “Ayo cha! Kamu bisa!”
Ya Allah… perjuangan itu… terlewati sudah… Alhamdulillah…
2 tahun, yang sebenarnya bukan hanya memberikan aku sekedar tambahan huruf berupa titel, namun lebih dari itu, lima tahun perjuangan itu telah mengantarkan aku hingga bisa seperti sekarang ini. Bukan cuma titel atau lembaran nilai-nilai IP, namun juga sahabat-sahabat yang hebat, yang telah mengajarkan aku makna sesungguhnya dari ‘maju terus pantang mundur’ sahabat-sahabatku, mereka semua yang ada di kampus. Mulai dari dosen, teman sekelompok, teman organisasi, penjaga kantin, anak-anak penjual koran, pak satpam yang baik, bahkan sampai teman-teman di sekolah tempat ku mendidik, yang selalu menularkan semangat, yang menyadarkan aku bahwa ilmu itu bukan hanya ada di dalam kelas, namun dimanapun kita berada disitulah ilmu itu, hingga akhirnya aku memilih untuk banyak mengikuti kegiatan agar semakin bertambah juga ilmu itu, hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku ini.
Namun seperti yang disampaikan calon imam ku dalam pesan singkatnya, bahwa setiap akhir adalah awal permulaan yang baru. Maka itulah hakikat wisuda yang sebenarnya. Di balik wajah kebahagiaan para mahasiswa bertoga, sebenarnya kita masih memiliki tugas yang lebih besar dari pada sekedar tugas yang ada dikampus. Yaitu bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat dengan bekal ilmu yang telah kita isi selama bertahun-tahun di kelas.
Fiufh.. jika membayangkan, tentu itu sungguh berat sekali. Terlebih melihat wajah para orang tua, yang penuh harapan terhadap anaknya yang telah menjadi sarjana, yang tak pernah letih melantunkan doa-doa untuk anaknya…
Ketika sudah mencapai puncak, capailah puncak yang lain. begitu kiranya nasihat orang bijak yang pas untukku saat ini. Meski wisuda itu adalah puncak dari perjuangan kita selama di kampus, namun ia bukanlah akhir. Lihatlah jauh kedepan, masih banyak puncak yang harus kita daki lagi. Janganlah takut untuk memulai dari Nol, melangkah dari awal untuk mendaki puncak yang lebih tinggi lagi.
Karena wisuda sesungguhnya bukan disini. Karena wisuda sesungguhnya bukan ketika kita mengenakan toga kemudian bersalaman dengan pak rektor menerima ijazah. Wisuda sesungguhnya itu adalah nanti, di akhirat sana. Ketika kita menerima buku amal dengan tangan kanan, ketika berhasil melewati panasnya padang mahsyar, ketika Allah telah membukakan pintu syurganya, dan kita dipersilahkan masuk selamanya.
Subhanallah… itulah wisuda yang sesungguhnya. Puncak dari semua puncak.
Insya Allah, kita termasuk didalamnya… amin…
*Selamat kepada teman-teman perjuangan di kampus UNTIRTA, terimakasih penuh hormat untuk ayah dan mamah. Juga Terimakasih banyak untuk sahabat terbaikku,juga calon imam ku yg selalu membimbingku selama ini...

Tanggerang 10 April 2015
Sheryl Nissa Rahmah S.D.s. M.p.d..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar