27 Nov 2013

Surat Cinta Untuk Calon Istriku (Part II)

Calon Istriku,
Tiada kata yang lebih layak kuucapkan selain puji dan syukur kepada Allah yang telah memilihkan pasangan hidup yang terbaik untukku, dan insya allah engkaulah orangnya. Walaupun…sejujurnya seringkali terbersit keraguan di hatiku, pantaskah aku yang masih apa adanya ini mendampingimu?
Aku teringat akan sebuah kejadian empat setengah tahun yang silam pada waktu awal aku mengenal dirimu, bukanlah sebuah kebetulan, karena itu adalah suratan takdir yang sudah Allah tuliskan buat kita. Aku masih teringat semua, kala itu engkau masih sosok gadis yang lugu, manja dan perlu seorang pembimbing untuk mengarahkan hidupmu. Dan aku merasa akulah orang itu. Bukan karena aku dirimu berubah menjelma menjadi sosok akhwat yang sangat anggun seperti sekarang ini, tapi karena tuntunan dari Allah swt dan tekadmu yang sangat kuat.
Calon Istriku,
Kata-kataku ini terlahir juga bukanlah sebuah kebetulan dan kepintaranku merangkai kata, akan tetapi yakinlah bahwa rangkaian kata yang sekarang kutuliskan untukmu benar-benar terlahir dari hati sanubariku yang paling dalam yang telah engkau genggam bersama hatimu. Resapilah apa yang engkau baca, karena saat ini aku tengah berbicara dengan suara hatiku.
Calon Istriku,
Aku berharap akan sebuah takdir yang akan menghantarkan kita kepada sebuah muara yang sangat indah, dambaan setiap orang yang saling mencinta, berlabuh disebuah mahligai pernikahan. Sebuah harapan yang akan dikabulkan Allah jika kita benar-benar yakin kepada-Nya.
Calon istriku,
Hari ini adalah hari ulang tahunmu yang ke 22, Aku sangat sedih sekali, tak ada yang bisa aku berikan untukmu selain dari luapan kata hatiku ini, demi Allah yang cinta kita berada dalam genggaman mahabbah-Nya, yang telah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi, dan menciptakan tujuh lapis belahan setiap hati manusia, maka sungguh ketika aku mencintaimu atas dasar cintaku kepada Allah telah mengantarkan aku pada sebuah ketenangan bathin karena sosok anggun dan kesholehahan serta kebaikanakhlak yang terpancar dari wajah dan hatimu.
Calon istriku,
Demi luasnya hati yang telah engkau bukakan untukku, Langit dan bumi tidak bisa menampung cintaku, dan akan tetapi hatimu bisa menampungnya, sehingganya hatiku tenang dan nyaman. Maka aku akan mencintaimu melebihi luasnya langit dan bumi, tak berapa lama lagi hari yang berbahagia itu akan menjelang, sebelum kita berlayar izinkan aku berpesan dan berwasiat kepadamu, agar kelak ketika kita berlayar kapal kita tak oleng ditengah samudera kehidupan yang akan kita jalani, hari ini aku ingin berterus terang kepadamu, bahwa sosok suami yang akan menahkodai bahtera Rumah tanggamu kelak bukanlah sesempurna Cintanya Nabi Muhammad kepada ‘Aisyah, juga bukan setegar cintanya Nabi Ibrahim kepada siti hajar, dan juga bukan sekuat cinta nabi Adam terhadap Siti Hawa, Suami yang akan menahkodai kehidupanmu tidak setampan Nabi Yusuf sehingga Zulaikha jadi terpesona dan jatuh cinta, dan akan tetapi calon suamimu hanyalah seorang manusia yang lemah penuh dengan segala kekurangan, penuh dengan kekhilafan dan dosa, jika ingin pintalah kepadaku apa saja yang engkau inginkan, tapi dikau harus ingat akan satu hal tidak semua keinginanmu bisa aku kabulkan, karena keterbatasanku sebagai Insan yang dho’if. Aku akan memberikan sebuah permisalan padamu, dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan, jangan lewatkan kata demi kata yang aku tuliskan untukmu, karena apa yang akan aku sampaikan ini adalah kunci keberhasilan sebuah rumah tangga yang akan kita jalani itu, walau diriku tidak selincah Leonal Messi dalam bermain bola, juga bukan sehebat Christian Ronaldo dalam melakukan tendangan gawang, apalagi sepintar Bambang pamungkas. Dan akan tetapi Aku ingin mengatakan bahwa Bahtera rumah tangga itu tak ubahnya seperti sebuah klub dalam sepak bola, dirimu pasti terheran-heran dengan apa yang akan aku sampaikan kepadamu, tapi renungkanlah bahwasanya apa yang akan aku sampaikan ini benar-benar akan menjadi sebuah kenyataan dalam realita kehidupan kita kelak.
Calon Istriku,
Leonal Messi memang lincah dalam bermain bola, dan akan tetapi dia tak akan pernah bisa bermain sendirian di Lapangan, sehebat apapun dia bermain pasti butuh kepada teman yang kompak untuk mencetak sebuah gol, sehingga kemenangan bisa di raih. Begitu juga dengan Christian Ronaldo, dia tidak boleh merasa paling berjasa dalam memenangkan sebuah pertandingan karena gol-gol indah yang tercipta lewat kakinya, dan dia harus mengatakan bahwa kemenangan yang diraih adalah berkat kerjasama tim yang solid.
Calon Istriku,
Aku bukan sedang mengajakmu untuk mencintai hobiku bermain bola, dan akan tetapi didalam sebuah klub bola terdapat sebuah pelajaran yang sangat indah jika direnungkan.  Di dalam sepak bola sang striker janganlah merasa paling berjasa, karena selalu mencetak gol, karena kalau bukan bola itu berasal dari kerjasama tim, maka bola itu tak akan pernah sampai kepadanya. Sang Kiper pun demikian, jangan pernah ada rasa riya dan ‘ujub sedikitpun ketika bisa menyelamatkan gawang, karena setiap posisi kita adalah amanah masing-masing untuk kita jalani. Mahligai Rumah tangga juga demikian, jangan merasa kita paling berjasa, jangan pernah berkata itu karena saya, akan tetapi katakanlah, ini berkat Allah swt yang telah mengabulkan usaha dan doa kita. Sebelah tanganku adalah separoh cinta, dan sebelah tanganmu adalah separoh cinta, ketika kita dipertemukan dan berjabat tangan dalam ikatan pernikahan maka jadilah kita cinta yang sempurna. Kita tidak akan sempurna sendirian, karena yakinlah setiap kita pasti punya kekurangan, maka kita saling menutupi setiap kekurangan yang kita miliki, sehingga cinta yang sempurna itu bisa kita raih.
Calon Istriku,
Ingatkanlah jika kelak suamimu keliru, jika ada hakmu yang terlalaikan, janganlah engkau ragu untuk menasehatiku, karena aku ingin rumah tangga kita kelak dibangun diatas saling menasehati didalam ketaatan kepada Allah, karena atas dasar inilah agama kita dibangun. sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Agama itu adalah nasehat” (HR Muslim).
Calon Istriku,
Bukan harta yang melabuhkan cintaku kepadamu, juga bukan kecantikan yang membuat aku mencintaimu, tapi karena Agama dan Akhlakmu yang membuat aku jatuh cinta kepadamu. Kelak aku ingin engkau akrab dengan kedua orang tuaku. Aku ingin mereka menyayangimu seperti anaknya sendiri, mulailah dengan berlaku lemah lembut kepadanya, membantu pekerjaannya, niscaya engkau akan disayang seperti anaknya sendiri.
Calon Istriku,
Simpanlah surat cinta dariku ini baik-baik. Kelak jika aku menjadi suami mu. Dan jika suatu saat aku lalai, maka tunjukkanlah surat ini untuk mengingatkanku. Semoga Allah memberi kekuatan kepadaku untuk senantiasa belajar menjadi suami yang sholeh & terbaik buat kamu. Wallahu ‘alam Bishawab
Bekasi 27/11/2013
jemmymirdad,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar